Re-write

Testi Compilation 1

Beberapa komentar pada artikel 4-5 tahun yang lalu.

Saya yakin ini tidak terdengar berlebihan bahwa saya senang sekali karena kini saya kembali menulis lagi. Jadi, apa selama ini saya berhenti menulis? Tentu tidak..! Selama ini pastinya tetap menulis, tapi menulis di akun-akun Social Media para brand yang saya tangani. Tapi tentunya kebutuhan dan tujuan menulis pada pekerjaan saya tersebut berbeda dengan yang saya lakukan saat ini. Pada pekerjaan saya sebagai Social Media Strategist, jelas saya menulis untuk kepentingan pekerjaan dan gaya penulisannya sendiri pun masuk ke dalam creative and marketing writing. Tapi kalau di blog pribadi, tentu kadar semangat menulisnya lebih tinggi karena saya bebas menulis apa yang ingin saya tulis, bukan (sekadar) apa yang ingin didengar oleh pembaca, serta tidak ada tanggung jawab profesional kepada pihak mana pun. Eits, bebas bukan berarti menulis sesuka hati tanpa menjunjung etika sosial dan sikap hormat kepada pihak-pihak tertentu ya. Tetap ada tanggung jawab moral pastinya.

Jadi, 5 tahun yang lalu saya sudah mulai menulis blog. Blog saya waktu itu URL-nya adalah http://nicetobeoki.blogspot.com, dan pengunjungnya sudah cukup ramai sebenarnya. Waktu itu, sama seperti sekarang, isi blog saya itu adalah tentang pedoman, filosofi, nilai-nilai, makna kehidupan, dan sedikit banyak ‘berbau’ hal-hal yang berhubungan dengan self-help, psikologi, dan karakter manusia, yang mana semua ide penulisan itu datang dari pengamatan, pengalaman, dan perenungan yang mendalam, serta dengan asupan pengetahuan dari luar juga, selama 20 tahun lebih.

Karena saat itu saya belum terlalu pede untuk hanya menulis topik-topik tersebut, maka saya tambah dengan topik kuliner. Mengapa? Karena saya sadar saya bukan siapa-siapa saat itu (memangnya sekarang sudah siapa-siapa? ;p). Jadi saya berpikir kalau saya “ngoceh” tentang kehidupan, self-help, dan semacamnya, it’s like.. hello.. who are you? A leader, an entrepreneur, a psychologist, a (professional) teacher? I mean, apa yang sudah saya hasilkan sampai layak membagikan pandangan hidup dan pengajaran buat orang lain? – Ini bukan karena saya terlalu keras terhadap diri sendiri, tetapi kenyataan bahwa orang selalu melihat hasil. Maka itu yang didengar oleh orang adalah orang-orang yang berhasil bukan? Karena orang lain ingin belajar dari pengalaman mereka bagaimana sampai akhirnya mereka bisa berhasil. Kalau tidak ada hasilnya ya namanya omong doang alias teori. Dan sudah hukum alam, yang namanya bicara atau teori saja pastinya selalu jauh lebih gampang dibandingkan praktek. Contoh paling simple saja, kalau ada yang sharing “untuk mendapatkan tubuh sehat, ngga boleh sering-sering begadang sampai subuh,” –> TEORI SAHIH yang sangat tepat. Tapi.. ternyata yang berbicara sendiri masih sering begadang dan sakit-sakitan. Apakah Anda mau dengar pembicara seperti ini?

Contoh lain lagi, kalau ada yang sharing “tips mempertahankan hubungan romansa agar langgeng adalah salah satunya jangan menuntut pasangan berlebihan tapi diri sendirinya justru ala kadarnya..” –> RASIONAL dan tak terbantahkan. Tapi.. yang cerita boro-boro punya pacar, yang ada malah jombie (jomblo yang saking lamanya sampai sudah kayak zombie, mati dan dingin perasaannya. Hahaha). Maka untuk berikutnya, Anda mau dengar lagi perkataannya?

Tetapi, maksud saya bukan berarti kita harus jadi ‘seseorang’ dulu baru layak sharing. Namun lebih pada apakah kita benar-benar sudah menjalankan apa yang kita katakan? Maka itu, ukuran berhasil di sini termasuk dari hal-hal yang kecil. Kalau hal-hal kecil yang baik dan benar itu sudah kita lakukan sampai akhirnya kita merasakan ada hasilnya, ya tentu silahkan banget untuk dibagikan ceritanya. Misalkan, Anda punya pandangan bahwa yang membuat seseorang bisa kecewa seringkali karena harapannya sendiri. Lalu, Anda belajar dan berusaha untuk selalu mengelola harapan Anda, biar apa-apa tidak terlalu ngarep. Akhirnya lama kelamaan Anda jadi jarang sekali galau dan kecewa karena Anda telah MELAKUKAN apa yang Anda percayai tersebut. Walaupun pekerjaan Anda tukang ojek dan masih single, sangat dipersilahkan untuk membagikan pengalaman Anda tersebut karena Anda sudah membuktikannya dalam hidup Anda. =) Namun perlu diketahui bahwa biasanya nih kalau sudah di ranah attitude, ketika attitude seseorang semakin bagus, maka keadaan dan kualitas hidupnya biasanya juga meningkat atau membaik. =) Kapan-kapan kita bahas ya soal ini.

Oh ya, belum lagi, sejujurnya saat itu saya juga belum terlalu siap dan belum begitu yakin untuk menceritakan pengalaman atau hal-hal apa saja yang sudah saya amati hingga membuahkan perenungan dan pandangan hidup seperti saat itu, karena kalau hanya membeberkan pengalaman hidup yang walaupun memang juga disertai solusi tetapi pada akhirnya tidak ada hasil nyatanya dalam hidup kita, itu sama saja lagi-lagi teori doang. Misalkan, Anda tahu ada beberapa masalah dalam hidup Anda timbul karena Anda terlalu emosional mengambil keputusan, lalu Anda bercerita tentang masalah Anda tersebut dan sekaligus memberikan solusinya yaitu betapa pentingnya kemampuan dalam menguasai emosi agar bukan kita yang dikuasai emosi. Apa yang Anda bagikan ini memang betul sekali. Tapi sayangnya, ternyata Anda bercerita hanya untuk meluapkan kepahitan dalam hati yang belum beres dan ujung-ujungnya Anda sendiri tidak melakukan nasihat/solusi Anda tersebut. Itu artinya Anda hanya sekadar.. baik, Anda TAHU masalah Anda apa, Anda TAHU solusinya seperti itu, tapi TIDAK Anda lakukan. Useless. =)) Ini ibarat kata, menasihati orang lain memang selalu lebih mudah daripada menasihati diri sendiri. XD. Perlu diingat bahwa antara TAHU apa yang harus dilakukan dengan MAU melakukannya berbeda. =) Kalau konsep sharing itu seperti itu jadinya bukan sharing hidup untuk menginspirasi, mengedukasi, atau memotivasi, tapi curhat =)).

Nah, karena saya tidak pernah menceritakan apa yang menjadi dasar dari pandangan hidup saya tersebut, jadi wajar saja dulu bahkan ada beberapa teman saya mengira tulisan saya saat itu cuma hasil baca buku orang lain lalu dikopi. Bahkan ketidakpercayaan seperti itu sudah dimulai ketika SMA. Jadi cerita singkat saja ini. Ketika SMA, ada tugas di mana setiap murid SMA di sekolah saya harus “kotbah” bergiliran setiap pagi di aula di hadapan semua murid SMA lainnya. Pas giliran saya, setelah saya sharing di depan aula, ada seorang teman berkata; materi saya pasti ambil dari buku. Pfft.. :)) Yang sebenarnya itu saya siapkan sendiri. Lalu pas SMP juga saya pernah beberapa kali ikut lomba pidato dan story telling. Waktu itu sih tidak ada yang pernah menyinggung apakah saya ambil bahan dari buku atau apa tapi bahan-bahan lomba itu terutama lomba pidato itu memang hasil buah pemikiran sendiri.

Tentu saja, saya ada membaca buku juga sebagai referensi -seperti yang saya tuliskan di atas, “asupan pengetahuan dari luar”-. Tapi justru karena saya pernah membaca buku dan sangat sering mendengarkan sharing orang lain melalui media apapun, bisa terasa kok mana orang-orang yang sharing hanya sekadar mengkopi dari buku/orang lainnya lagi, dibandingkan dengan yang diformulasi berdasarkan pengalaman hidup mereka juga. Saya percaya Anda juga bisa merasakannya. =)

Nah, seiring berjalannya waktu, ada beberapa kejadian yang terjadi sampai pada akhirnya blog saya itu saya tutup. Intinya saya merasa belum layak menyebarkan blog yang berisi “pedoman hidup” tersebut. Momen tersebut membuat saya justru yakin bahwa suatu hari ketika saya sudah lebih siap, saya akan membangun kembali blog saya dengan konsep yang baru, yang lebih rapi, lebih firm, dan tentunya mempraktekkan dulu apa yang sudah (dan akan) saya tulis agar menjadi lebih excellent tentunya!

Then, this is it! Saat ini saya memutuskan untuk menuliskan kembali dan tentunya dengan menambah lagi pemikiran-pemikiran baru yang didapat selama kurang lebih 4 tahun ini vakum tidak ditulis lagi.

Blank paper with pen, coffee cup and red apple

Ya, bagi saya sangat penting untuk melakukan dulu apa yang ingin dikatakan, dan mengatakan sesuai apa yang sudah dilakukan. Seperti kata Confucius “the superior man acts before he speaks, and afterwards speaks according to his action“. Kalau sekadar teori, tentunya sangat banyak yang lebih pandai dari saya. Tapi di sepanjang hidup saya, saya menemukan bahwa pandai berteori saja jadi tidak begitu ada artinya. Esensinya itu ada di ACTION. Coba saja perhatikan baik-baik, kita sudah banyak dikelilingi orang yang lihai berbicara/teori doang bukan? (Termasuk banyak orang-orang terdekat saya bertipe seperti itu) =) Nah, berguna tidak hasilnya orang-orang seperti itu? Bisa jadi tetap ada manfaatnya. Paling tidak, kita bisa ambil teorinya (yang benar) untuk dipraktekkan dalam hidup kita. Tapi, kalau orang-orang yang hanya berteori itu disertai ACTION, pasti akan jauh lebih bermanfaat dan tentunya lebih respectful. Tetapi, jangan skeptis, bagaimana pun ada juga figur-figur yang banyak action-nya. Mereka inilah yang secara signifikan telah berkontribusi membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni. Yang artinya, di dunia ini masih ada (banyak) kok yang bisa dipercaya dan diandalkan. Hidup ini seimbang. Itu sudah hukum alam. Jadi tenang saja, ekosistem antara pria-wanita, jantan-betina, orang baik-orang jahat, orang yang bisa diperaya dan yang tidak, (serta perbandingan lainnya) itu jumlahnya seimbang.

Tentunya saya ingin jadi salah satu orang yang masuk tipe ke-2 agar terus bertambah banyak action people daripada hanya yang berteori atau bercuap-cuap. Maka setelahnya orang lain pun terdorong untuk mau juga menjadi sosok berikutnya yang betul-betul bisa dipercaya dan diandalkan agar kehidupan mereka jadi lebih baik, dan juga lebih berarti karena ada orang-orang lain berikutnya lagi yang tertolong bahkan terinspirasi dari mereka. Bukankah Mahatma Gandhi pernah berkata “be the change you want to see in the world”. Itu benar sekali. Kita lelah dan enek sama orang yang omdo (omong doang), tapi seringkali tahunya ternyata kita juga bagian dari mereka. Pantas saja kita juga sering enek sama diri kita sendiri =)). Jadi daripada menuntut orang lain yang berubah, lebih baik coba diri sendiri dahulu yang berubah menjadi lebih baik. Kenyataannya, sangat tidak mudah loh mengubah diri sendiri. Belasan atau puluhan tahun Anda sudah berada dalam zona kepribadian/perilaku yang lama, jadi untuk membiasakan diri dengan perilaku, action, atau attitude yang baru tentunya tidak instan alias butuh waktu dan proses. Tapi, itulah harga yang harus dibayar untuk mengubah kondisi hidup kita. Dan tentu akan lebih baik lagi jika setelah kondisi hidup Anda lebih baik, orang-orang sekitar Anda yang melihat bukti nyatanya dari Anda percaya bahwa mereka juga bisa seperti Anda, dan di sinilah Anda memiliki andil dalam mengubah dunia mejadi lebih baik.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , ,

4 thoughts on “Re-write

  1. Perspektif February 24, 2015 at 12:53 pm Reply

    Salam kenal. Menurut saya, tidak perlu menjadi “seseorang” dulu untuk baru kemudian sharing. Masalahnya banyak orang-orang yang sudah menjadi “seseorang” itu jarang yang ada mau sharing keberhasilannya. Justru dalam proses itulah kita banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Dan itulah yang kita bagikan. Selamat kembali menulis dan tetap semangat dalam menulis. Indonesia butuh lebih banyak penulis yang menginspirasi dan menambah wawasan kita semua.

    • OKINICE February 25, 2015 at 8:23 am Reply

      Hi Perspektif,

      Terima kasih sudah berkunjung dan terima kasih juga atas support-nya. 🙂

      Wah, kalau boleh tahu Anda bisa menemukan artikel saya ini dari mana ya? Mengingat ini baru artikel pertama di blog yang baru saya, dan belum saya sebar-sebarin ke mana-mana, hanya pakai hash-tag saja. Apa dipromosikan dari WordPress? :/ Tapi platform website klien-klien saya yang dulu pakai WordPress, sepertinya tidak ada istilah dipromosiin WordPress.

      • Perspektif February 25, 2015 at 8:53 am

        Saya baca dari wordpress reader

  2. Alasan Menulis | OKINICE MEYER November 14, 2015 at 6:31 am Reply

    […] yang saya tuliskan pada artikel saya yang berjudul Re-write, kurang lebih 5 sampai 6 tahun yang lalu saya sudah nge-blog sebenarnya. Konten blognya kurang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: