Film Favorit

Film yang bagus banyak. Kadang kalau ditanya film favorit saya apa, bingung jawabnya. Namun, kalau benar-benar harus jawab, saya akan menjawab film-film pada gambar di atas ini. Mengapa? Berikut ini alasannya:

lib

1. Life is Beautiful (LIB)
LIB ini film jadul tahun 1997. Saya bukan pengamat film, tetapi bagi saya, story is the key point of a movie. Sebuah film harus ada ceritanya dan mampu bercerita. Jadi walaupun film action, bukan berarti isinya berantem doang, dan mengenyampingkan cerita. Kalau cuma mau lihat adegan berantem/fighting, apa bedanya dengan menonton tawuran anak sekolah atau lomba bela diri? Tinggal pilih saja, mau menonton yang mana, yang ilegal atau legal. XD Hal ini juga berlaku pada film horor, komedi, dan genre lainnya.

Berikutnya, buat saya, salah satu faktor film yang bagus adalah ketika alur ceritanya menarik dan sulit ditebak. Coba saja kalau Anda menonton film yang.. “ah gue juga udah tahu, abis ini pasti gini, abis itu pasti gitu, terus akhirnya paling gini-gitu,” tidak menarik bukan? Apalagi kalau film yang fondasi ceritanya tidak kuat, atau yang orang suka bilang “ini film ngga ada ceritanya, cuma ‘jual’ pemainnya atau isinya cuma berantem doang”, pastinya jadi biasa saja, bukan? Oleh karena itu, film yang bagus seharusnya punya cerita yang kuat, mampu bercerita secara efektif, dan merupakan nilai plus kalau ceritanya “unpredictable” atau susah ditebak.

Nah, saya mengklaim film yang saya tonton saat SMA ini sangat bagus karena kita tidak akan pernah menyangka bagian akhir dari ceitanya ternyata begitu mengejutkan. Ibaratnya, Anda akan berkata, “oh ternyata begini akhirnya..” setelah mengetahui akhir ceritanya. Kerennya lagi yaitu efek emosional yang cukup twisted pada film ini. Jadi, film ini sukses membuat saya tersentuh dan menangis tetapi bukan di tengah adegan menangis atau pada ada adegan sedih-sedihnya, yang ada justru film ini banyak adegan lucu, dan menyajikan adegan menangis (yang tidak lebay sama sekali) hanya di bagian sangat awal dan sangat akhir film. Air mata saya berurai justru karena ending ceritanya yang unpredictable itu! Oh ya, karena ending-nya unpredictable, bukan berarti film ini dinonton di bagian akhirnya saja ya. Kalau tidak nonton dari awal, mana berasa unpredictable-nya nanti? :))

Film ini bukan kisah nyata tetapi mengambil setting kondisi ketidakstabilan politik yang memang pernah terjadi di Itali. Kalau tidak salah, ada hubungannya dengan partai Nazi, Jerman (maaf kalau saya keliru, karena saya menonton film ini 8 tahunan yang lalu, jadi lupa). Tidak berapa lama setelah saya menonton film yang berhasil mendapatkan beberapa penghargaan piala Oscar ini, lalu saya obrolin dengan teman saya yaitu seorang kakak kelas di SMA yang seorang lulusan psikolog pendidikan dan berprofesi sebagai guru les. Dari dia, saya baru tahu aktor film ini adalah aktor Itali pertama yang meraih piala Oscar, dan teman saya itu pun langsung bilang “tuh film mah bukan bagus lagi, tapi bagus banget.” Dan ternyata bukan cuma saya dan teman saya itu saja, teman saya yang lainnya yang merupakan seorang professional movie reviewer pun menyatakan hal yang sama, yaitu film ini bagus. Jadi, sudah pengen nonton kah? 😉 Selayaknya kebanyakan film-film jajaran oscar lainnya, LIB ini juga banyak dialognya, terutama di awal-awal film. Tetapi, bersabarlah, jangan langsung berhenti menonton. Sayang jika tidak ditonton hingga selesai.

vow

2. The Vow
The Vow ini adalah film yang terinspirasi dari kisah nyata. Ada beda antara film yang based on true story dan inspired by true story. Film yang diperankan oleh Channing Tatum dan Rachel McAdams ini termasuk yang “inspired by true story”, di mana alur cerita dalam film adalah fiktif, tetapi ide dan konsep cerita muncul karena terinspirasi oleh sebuah kisah nyata. Kalau film “based on true story” jelas artinya mengangkat sebuah kisah nyata menjadi film. Jadi, isi dan alur cerita pada film seharusnya persis atau sangat mirip dengan kisah nyata yang diangkat.

Nah, karena ide dan konsep cerita dalam film ini terinspirasi dari kisah nyata, berarti yang saya favoritkan kisah nyatanya dong ya? :)) Bisa jadi sih, karena kisah nyatanya memang mind-opening banget. Kisah kehidupan sang pemeran utama wanita membuktikan kebenaran tentang adanya takdir, sesuai dengan quotes yang sering kita dengar: if it’s meant to be, then it will be. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Di mana kita dilahirkan, bagaimana kita dibesarkan, mengapa kita (harus) melewati kejadian ini dan itu, semuanya terjadi untuk membentuk kita pada satu tujuan. Everything happens for a reason. Salah satu tujuannya biasanya adalah untuk menemukan panggilan hidup kita yang jelas tidak bisa diingkari oleh nurani.

If_Only_movie_poster

3. If Only
Alasan mengapa saya menyukai film ini sederhana saja, yaitu karena selain ceritanya memang menarik, film ini juga membuat saya berpikir kalau saya atau Anda berada dalam posisi pemeran utama pria dalam film ini, kira-kira apa ya yang akan kita pilih? Hmm.. Berat banget loh pilihannya. Rasanya, bisa jadi skala pilihan si pria tersebut merupakan skala terberat dalam hidup.

Pernah mengalami yang namanya ‘setengah mati’ dalam arti sesungguhnya? Kalau pernah, Anda akan betul-betul mengerti kondisi seperti itu sangatlah depresif, sampai Anda mau menerima kenyataannya. Nah, coba bayangkan, apalagi pada kondisi tersebut Anda cuma punya 2 pilihan yaitu: mati atau tidak sama sekali, tetapi.. ada konsekuensi lainnya yang tidak kalah pahit. Apa itu? Tonton saja dulu! 😉

cast_away_2000-1e609

4. Cast Away
Film yang diperankan oleh Tom Hanks ini juga tidak kalah menariknya dengan tiga film di atas, karena selama kurang lebih 2 jam kita hanya akan menonton bagaimana seseorang yang sedang berusaha keluar dari sebuah pulau terpencil di mana ia sudah terisolasi selama setahun lebih di sana. Hmm, sebagian properti film ini sepertinya disponsori FedEx. Maaf kalau saya salah, karena saya memang tidak melakukan research soal siapa sponsor film ini. Tapi kalau saya boleh mengambil pesan moral dari film ini, mungkin salah satunya adalah gunakanlah FedEx untuk jasa pengiriman barang! 😀 Walaupun kurir dan barangnya sempat raib tidak ada kabar sampai setahun lebih, tapi pada akhirnya paket yang dikirimkan sampai juga. 😛

Film yang dirilis tahun 2000 ini secara garis besar bisa dibilang hanya diperankan satu orang saja. Setelah film Cast Away, ada juga sih kalau tidak salah beberapa film dengan konsep seperti ini, contohnya Buried, yang kata teman saya film tersebut bercerita bagaimana seseorang yang terkubur hidup-hidup harus berusaha menyelamatkan diri.

Oh ya, film ini juga masuk jajaran nominasi piala Oscar dan beberapa penghargaan lainnya. Kalau biasanya film jajaran Oscar kuat pada dialognya, film satu ini malah minim dialog, secara mau ngobrol sama siapa sendirian di pulau? 😀 Eits, tapi Chuck Noland (Tom Hanks) ada ngobrol loh saat ia di pulau tersebut! Wah, sama siapa tuh? Tonton saja sendiri! 😉

wall-e

5. Wall-E
Film animasi satu ini juga difavortikan oleh adik dan sepupu saya yang movie freak. Film tanpa komunikasi verbal ini bisa mencuri hati penikmat film tentu menjadi keunikan tersendiri. Padahal kalau biasanya kan, sebisa mungkin film punya dialog yang kuat untuk mendukung eksekusi cerita. Ada sih dialognya tapi sedikit sekali dan bukan adegan pentingnya. Jadi secara umum, saya menyatakan film ini tidak ada komunikasi verbal.

Ketika saya bertanya kepada adik saya, mengapa dia menyukai film ini, jawabannya berhubungan dengan masalah bumi. :)) Menurutnya, film ini dengan tepat menggambarkan kalau bumi terus-menerus diabaikan dan hanya fokus dengan teknologi, maka yang akan terjadi adalah sesuai yang diceritakan di film. Manusia pun juga akan ‘berakhir’ seperti yang digambarkan dalam film.

Lalu ketika saya bertanya kepada sepupu pria saya, dia berkata bahwa di menyukai sisi romansa film yang dirilis tahun 2008 ini. Baginya, bagaimana si Wall-E mampu meyakinkan Eve kalau ia sangat mencintainya tanpa ada komunikasi verbal merupakan nilai plus dari film yang banyak mendapatkan review positif di internet ini.

Nah, kalau pandangan saya sendiri hampir mirip dengan sepupu saya tetapi tidak hanya dalam bagian romansanya Wall-E dan Eve, tapi dari keseluruhan film. It means, tanpa dialog dan dengan karakter yang bukan manusia (tetapi robot, sehingga tidak ada body languange yg signifikan), semua yang ingin dikomunikasikan dalam film ini tersampaikan kepada penonton. Jenius.

Oh ya, tapi mohon diperhatikan bahwa ini hanya film ya. Di dunia nyata, bukan berarti saya menyarankan Anda tidak perlu ngomong untuk mengungkapkan apa yang anda inginkan/butuhkan.
Kalau mau mengambil salah satu moral story-nya, memang bisa dilihat dari sisi bahwa betul; actions speak louder than words. Tapi, it doesn’t mean there are no words at all. :)) Ini realita, bung. Orang tuna wicara/rungu pun “berbicara” secara “verbal” melalui bahasa isyaratnya. Jadi dimohonkan untuk tidak pernah membiasakan diri berharap lawan bicara tahu apa yang Anda mau/butuh tanpa Anda sampaikan secara verbal ya. Lawan bicara Anda bukan dukun apalagi dewa. 😉

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: