Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-1)

aristotle

Selama ini kita mengenal Inul Daratista sebagai penyanyi dangdut, Tukul Arwana sebagai pelawak, Anne Avantie sebagai perancang busana, Ahmad Dhani sebagai musisi, tetapi saya rasa Anda pasti tahu bahwa mereka sebenarnya adalah kaum entrepreneur. Ya, mereka adalah entrepreneur dengan bidang dan industrinya masing-masing. Kalau Inul pada bidang tarik suara, Tukul pada bidang komedi, Anne Avantie pada bidang fashion design, sedangkan Ahmad Dhani pada bidang musik, yang kebetulan masing-masing dari mereka memilki bakat di industri bisnis yang mereka geluti itu sendiri, mengawali kariernya ini dengan bakat mereka tersebut sehingga menjadi profesi mereka saat itu, dan lama-lama menjadikan itu sebagai bisnis mereka, lalu memberdayakan atau meregenerasi orang lain dari bisnisnya ini hingga disebutlah sebagai entrepreneur.

Bahkan Anda mungkin tahu bahwa ada beberapa pemuka agama pun sebenarnya masuk sebagai kaum entrepreneur. Tempat ibadah, manajemen, serta jasa yang ditampilkan/disediakan di tempat ibadah merupakan “produk bisnis”-nya. Di sini saya TIDAK sedang membahas apakah benar atau salah jika ‘bisnis’nya adalah seperti ini, karena yang paling tahu niat hati si pemuka agama hanya dirinya dan Tuhan. Jika passion-nya benar-benar adalah menyebarkan ajaran agama, niat dan tujuannya betul-betul karena ingin melayani sesama, memberdayakan para manajemen dan jamaah/jemaatnya, maka menurut saya, segala kelimpahan yang didapati oleh si pemuka agama sebagai ‘business owner’ pantas dipandang sebagai berkah Tuhan serta layak diterima dan dinikmati olehnya. Lagipula kalau dibahas per industri, para pemuka agama tersebut sebenarnya bisa disebut sebagai sociopreneur (social entrepreneur). Apa itu sociopreneur? Secara singkat, saya pernah membaca sebuah pernyataan yaitu, salah satu syarat yang ada pada seorang sociopreneur adalah harus mempunyai itikad untuk menjadi pengusaha dengan dasar fundamental sosial. Saya cukup setuju dengan definisi tersebut. Namun jika ranahnya sudah di bidang agama, maka jangkauan si pemuka agama biasanya lebih kecil dibandingkan entrepreneur pada umumnya. Jangkauan di sini bisa termasuk ‘konsumen’-nya atau seberapa jauh ia dikenal. Jika agamanya minoritas, maka jangkuannya pun pasti akan semakin kecil.

Kembali lagi tentang kaum entrepreneur. Banyak orang yang berpikir jika ia berbisnis atau berdagang, maka ia bisa disebut sebagai entreprenuer. Padahal hanya karena kita berdagang/berbisnis, tidak serta merta kita bisa disebut sebagai seorang entrepreneur. Hal ini sebenarnya bisa dijelaskan dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan; dari sejarah, sosiologi, filsafat, dan psikologi. Kalau di sini saya hanya ingin berdiskusi secara general saja karena saya bukan sejarahwan, cendekiawan, akademisi, atau psikolog. Kalau pun mau ‘diilmukan’, mungkin lebih masuk ke filsafat kali ya.

Entrepreneurship

Nah, berikut ini adalah 3 ciri-ciri kaum entrepreneur dalam hipotesa saya:

1. Pernah berjuang melewati masa-masa sulit dan memulai segalanya dari nol sebelum akhirnya menjadi seorang pemimpin.
Sesuai quotes pada gambar di atas, seorang entrepreneur biasanya harus melewati masa-masa di mana banyak orang tentu tidak mau melewatinya, seperti masa-masa sulit, pahit, berat, atau pun tertekan. Seorang entrepreneur harus melewati masa-masa seperti itu sebagai proses untuk membentuknya agar memiliki karakter entrepreneur sejati, dan pada akhirnya ia dapat memetik ‘buah’ dari hasil perjuangannya tersebut yang mana tidak banyak orang bisa dapatkan.

Salah kaprah terjadi ketika kita beranggapan bahwa setiap orang yang berjuang mulai dari keadaan yang susah lalu sukses berarti ia adalah entrepreneur. Hal inilah yang menyebabkan belakangan banyak orang, entah apa pun profesi mereka, justru merasa begitu ‘bangga’ dan suka membangga-banggakan diri kalau di masa lalu mereka pernah menderita, alih-alih untuk menunjukkan ketangguhan diri yang mampu melewati semua itu. Agar kita tidak mudah menilai buruk orang lain, saya sendiri memandang hal ini maklum saja, namanya orang kalau sudah sukses lalu jadi ada sombong-sombong sedikit itu manusiawi, apalagi jika awalnya memang penuh perjuangan, setelah sukses biasanya bisa jadi narsis dan suka ‘mendewakan’ diri karena merasa dirinya telah membuktikan sesuatu yang mana belum tentu semua orang bisa seperti dirinya. Manusiawi punya perasaan seperti ini, selama tidak berlebihan.

Setiap orang yang berjuang dari keadaan yang sulit itu belum tentu seorang entreprenuer, karena sesungguhnya salah satu esensi hidup adalah berkerja/berjuang. Secara naluriah, mahluk hidup berjuang untuk bertahan hidup, yang artinya ini merupakan kebutuhan mendasar semua mahluk hidup. Jadi jangankan kita sebagai manusia, tumbuhan pun setiap hari bekerja untuk menghidupi dirinya dengan melakukan proses fotosintesis, dan hewan pun juga berjuang untuk bertahan hidup dengan cara mencari mangsa/makanan di sekitarnya. Karena manusia keinginannya jauh lebih banyak, ya perjuangannya pun jadi lebih banyak juga. Semakin banyak keinginannnya, jelas perjuangan semakin banyak dan besar. Misalkan Anda adalah penyanyi dan Anda bercita-cita ingin go international, pastinya perjuangan Anda akan lebih besar untuk mencapai impian tersebut, dibandingkan yang tidak bermimpi sampai ke sana. Namun, untuk kaum manusia lainnya, berjuang dari keadaan yang sulit atau memulai dari nol adalah optional, sedangkan khusus untuk para kaum entrepreneur, melewati kondisi tersebut adalah keharusan.

Saya ingat kenalan saya di Twitter, @JetVeetLev pernah berkata kurang lebih maknanya seperti ini; kalau Anda dikuliahin di luar negeri sama papi, lalu pulang ke Indonesia dikasih modal (atau pakai tabungan yang sudah lama ada dari papi) untuk membangun bisnis, itu bukan entrepreneur, itu enakbener. 🙂

Ya, seorang pemimpin yang baik biasanya memiliki rasa kepedulian yang cukup tinggi terhadap sesuatu/orang lain terutama yang dipimpinnya, dan perasaan tersebut bisa ada jika ia memilki rasa empati yang besar. Rasa empati tersebutlah yang biasanya diasah saat di masa-masa sulit, karena ia jadi tahu betul rasanya bagaimana dalam keadaan yang begitu sulit. Selain itu, seorang pemimpin harus terbiasa mengemban tanggung jawab dan penuh integritas. Semua itu juga mulai diuji dan dilatih saat ia masih di bawah. Kalau tanggung jawab yang lebih kecil saja tidak bisa dipenuhi, bagaimana suatu saat nanti bisa mengemban tanggung jawab yang lebih besar? Jika untuk hal-hal sederhana saja tidak bisa dipercaya, bagaimana hidup ini mau mempercayakan dia pada hal yang lebih besar?

2. Suka berbagi secara moril dan materiil
Seorang kaum entrepreneur biasanya suka berbagi ilmu/nasihat/motivasi DAN JUGA berbagi harta. Berbagi harta di sini bukan berarti semua kaum entrepreneur pasti orang yang royal, tetapi paling tidak, BUKAN orang yang TERLAMPAU PELIT. Hal ini biasanya disebabkan karena seorang entrepreneur sejati turut senang jika melihat orang lain juga maju agar bisa sukses sepertinya, apalagi jika itu adalah anak buahnya sendiri. Lalu kalau soal materiil, biasanya karena para entrepreneur tahu betul rasanya bagaimana tidak memilki apapun dan pernah melewati fase yang membuat mereka sadar bahwa kalau mereka bisa sukses hari ini juga pasti karena ada pertolongan orang lain dan anugerah Tuhan di dalamnya. Hal inilah yang membuat mereka mudah berbagi terhadap orang yang kesusahan.

Walaupun seorang entrepreneur biasanya suka berbagi, tetapi kalau saat berbisnis, bukan berarti mereka tidak “perhitungan”, karena bisnis ya bisnis, kerja ya kerja, amal ya amal. Jadi jangan sampai kita jadi ngarep jika bos kita adalah seorang kaum entrepreneur lalu dia akan begitu royal bagi perusahaannya dengan menggaji kita begitu besar hanya karena didasari rasa empati kepada kondisi finansial kita. Tentu tidak seperti itu. Sang pengusaha tentu harus itung-itungan perihal pengeluaran perusahaan.

Pertanyaannya, memangnya ada pebisnis andal yang pelit banget? Di sepanjang hidup saya, saya sudah pernah bertemu dengan begituuu banyaak macam-macam orang, sehingga syukurnya membentuk saya selama ini jarang memberikan stereotype pada suatu golongan, karena apa pun profesinya, rasnya, sukunya, bentuk wajah dan tubuhnya, orang pelit pasti ada. 🙂 Nah, hanya karena seseorang sangat lihai berbisnis, entah apa saja bisa ia dagangkan, atau kalau pun bisnisnya hanya satu, bisnis tersebut juga berkembang sukses, tetapi tabiatnya pelit banget (terutama secara materiil), mohon maaf, menurut saya orang ini belum bisa disebut entrepreneur. Berarti, bicara tentang ‘memberi’, di mind-set-nya masih seperti ini: terus menyimpan dan mengumpulkan = bertambah banyak, tetapi kalau memberi = ada yang berkurang dari dirinya. Coba Anda renungkan secara mendalam, apakah seorang pemimpin sejati mentalnya seperti ini? 😉 Para pebisnis seperti ini biasanya hanya masuk sebagai kaum pedagang. Jadi sekali lagi artinya, hanya karena kita berdagang/berbisnis tidak serta merta kita disebut entrepreneur. Tetapi untuk menjadi seorang entrepreneur jelas ada yang dibisniskan.

Bersambung ke bagian ke-2.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One thought on “Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-1)

  1. […] artikel seri “Siapakah Saya?” beberapa waktu lalu, saya ada menuliskan bahwa di hidup ini ada orang-orang yang masuk sebagai […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: