Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-3)

common sense

Pada artikel bagian ke-2 sebelumnya, saya ada menyebut kata “book smart”. Maksudnya apa sih “book smart”? Jadi, kecerdasan seseorang bisa dibentuk dari 2 macam sumber, yaitu dari buku-buku (teori) atau dari eksperimen langsun di lapangan (praktek). Book smart merujuk pada orang yang sangat suka belajar, membaca, mencari tahu wawasan-wawasan baru, dan biasanya disebut juga sebagai orang yang well-educated, sedangkan street smart adalah orang-orang yang cerdas melalui terjun langsung di lapangan, melihat kondisi di lapangan seperti apa, dealing langsung dengan kondisi di lapangan, dan mempraktekkan apa yang seharusnya dilakukan.

Nah di dunia ini, ada yang masuk sebagai kaum akademisi/cendekiawan (intellectual). Orang-orang seperti ini cocok berprofesi sebagai guru, dosen, profesor, filsuf, dan semacamnya. Para kaum akademisi wajib merupakan orang yang book smart! Namun jika ia juga street smart tentunya merupakan nilai plus. Jadi ketika ia berbagi pengetahuannya kepada orang lain biasanya akan lebih mengena karena bisa dihubungkan dengan pengalaman pribadinya di lapangan.

Kebalikannya dari kaum akademisi, untuk kaum entrepreneur/leader, street smart is a must! Karena entrepreneur/leader dipercaya dari apa yang ia lakukan. Para kaum entrepreneur/leader perlu terjun atau pernah di lapangan agar ia bisa merasakan bagaimana rasanya di lapangan sehingga ia tahu caranya menolong dan memberdayakan orang-orang di kemudian harinya. Kaum entrepreneur sebenarnya lebih ke berbagi pengalaman dan kaum akademisi lebih ke berbagi pengetahuan. Namum, sama seperti kaum akademisi yang apabila juga street smart merupakan nilai plus, maka kaum entreprenuer yang juga book smart adalah nilai plusnya! Jadi, ketika si entrepreneur sedang sharing, ia bisa kaitkan ceritanya dengan ilmu pengetahuan/teori yang ia dapati, bahan sharing-nya juga lebih banyak, ia bisa kaitkan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ia dapati, segmentasi pasarnya bisa lebih luas yang artinya ia bisa berbicara di hadapan berbagai kalangan, dan biasanya kosa katanya secara lisan maupun tulisan lebih banyak dan intelek.

Kaum berikutnya yang ingin saya bahas adalah kaum superstar. Menurut dictionary.com, definisi superstar adalah a person, as a performer or athlete, who enjoys wide recognition, is esteemed for exceptional talent, and is eagerly sought after for his or her services. Dari sini jelas, seorang superstar adalah seorang penampil (performer), yang artinya wajib memiliki bakat depan layar. Ya, kaum superstar adalah mereka yang dilimpahi berbagai bakat, terutama bakat depan layar, sehingga biasanya mereka adalah orang yang berkharisma dan kehadirannya ditunggu-tunggu. Kalau kaum entrepreneur atau leader, kehadirannya ditunggu-tunggu karena sosoknya yang inspiratif dan banyak orang yang membutuhkan pertolongannya, sedangkan kaum superstar ditunggu-tunggu karena performance bakatnya yang memukau. Karena definisinya yang seperti itu, maka  profesi kaum superstar bukan berarti harus selalu selebritis, aktor, aktris, atau penyanyi yang sering kita tonton di TV. Misalkan begini, jadi di gereja saya dulu, ada seorang teman yang mana ia memiliki banyak bakat terutama bakat depan layar seperti ia dapat memimpin puji-pujian, main keyboard, main gitar, dan MC. Saat ia sudah tampil pun, ia begitu terlihat berkharisma dan suasana jadi meriah. Nah, teman saya itu adalah seorang superstar, tapi pada lingkup yang lebih kecil, yaitu di gereja. Jadi, kalau di sekolah, kampus, atau kantor Anda ada orang berkarakteristik seperti ini, ia adalah superstar-nya di sana. Untuk lingkup yang lebih besar, Agnes Monica masuk sebagai kaum superstar.

Kaum berikutnya yang akan saya ceritakan secara singkat adalah kaum seniman, dan menurut saya, kaum satu ini cukup banyak di Indonesia. Kaum seniman erat dengan orang-orang yang berkarakter idealis. Walaupun memiliki bakat seni yang menonjol, biasanya mereka tidak terlalu berhasrat menjadi kaya raya dari bakat seninya tersebut. Mereka bahagia selama mereka bisa berkarya lewat bakat seninya itu, karena itulah cara mereka mengaktualisasikan diri. Selain itu, mereka biasanya juga mengekpresikan diri atau perasaannya melalui karya seninya. Walaupun cenderung terlihat santai menjalani hidup, tapi kaum seniman biasanya orang yang cukup sentimental.

Mungkin masih banyak lagi kaum lainnya yang belum saya telusuri, tetapi terakhir ini saya hanya akan sedikit membahas tentang kaum yang saya sebut sebagai kaum Cinderella. Anda pasti tahu dong isi cerita dongeng pada umumnya? Biasanya diceritakan seorang wanita dengan masa lalu yang kelam akhirnya bertemu pangeran yang menolongnya lalu menikahinya, dan berbahagialah hidup mereka. Melihat realita hidup ini, mungkin kisah-kisah seperti ini terdengar agak naif. Tetapi, kalau sampai ada dongeng seperti ini, berarti bisa jadi ada kisah nyatanya juga, dan memang betul, kaum Cinderella itu ada! Di sekeliling saya, sudah ada beberapa perempuan yang masuk sebagai kaum Cinderella. Masa-masa kecil/awal hidupnya sangat sulit, ada juga yang keluarganya berantakan, sampai akhirnya kehidupan mereka berubah 180 derajat setelah bertemu dengan laki-laki baik (dan mapan) yang menjadi pendamping hidup mereka, dan mereka menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kelar. Saya tidak bilang bahwa setelah menikah, pernikahan mereka tanpa ada masalah sama sekali. Ya namanya hidup, masalah kan bisa ada kapan saja. Tetapi, pasangan hidup mereka memang datang sebagai “pangeran berkuda putih” bagi mereka.

Saya memang setuju dengan teori yang mengatakan ‘jangan menaruh kebahagiaanmu pada orang atau sesuatu apa pun yang lain’, tetapi saya tidak lupa juga dengan kalimat Buddha yang pernah mengatakan ‘believe nothing, no matter where you read it, or who said it, no matter if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense‘ yang secara singkat saya artikan bahwa semua teori ini kan sebenarnya teori sosial, bukan ilmu pasti. Maka teori tentang kebahagiaan di atas sangat bisa menjadi tidak pasti untuk sebagian orang, yaitu mungkin untuk para kaum Cinderella, karena pasangan hidup dan keluarga baru mereka kemungkinan memang merupakan sumber kebahagiaan mereka.

Sampai di sini mungkin sebagian dari Anda berpikir pasti para kaum Cinderella itu adalah perempuan yang cantik. Apa betul begitu? Bagi saya cantik itu relatif dan penilaiannya sangat subjektif. Bisa jadi untuk kebanyakan orang, si A adalah wanita biasa-biasa saja, tapi bagi suaminya, si A sudah masuk kategori cantik. Tapi biasa sih, paling tidak, sedikit banyak ada daya tariknya. Jadi, cantik atau tidak itu tergantung penilaian masing-masing individu. Yang lebih pastinya adalah biasanya kaum Cinderella adalah seorang wanita rumahan dan full ibu rumah tangga.

— bersambung ke bagian ke-4.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One thought on “Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-3)

  1. […] — Bersambung ke bagian ke-3. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: