Monthly Archives: November 2015

Mencoba Mengerti

Suatu pagi, seorang pria naik sebuah taksi dan pergi menuju bandara. Ketika sedang melaju cepat (pada jalur yang benar), tiba-tiba sebuah mobil hitam, tanpa memberi tanda apa pun, menyerobot mengambil jalan di depan taksi itu. Si supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobilnya berdecit dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam membuka jendela, menjulurkan kepalanya, dan memaki-maki si supir taksi. Namun apa yang terjadi? Supir taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan dengan ringan, pada orang tersebut.

Continue reading

Mengkritisi Tayangan Pernikahan Mewah di Televisi

664529916473009f7af847ec2ffdfe55

Saya tidak setuju dengan acara pernikahan, kelahiran, dan lain-lain yang terlampau mewah ditayangkan di media. Mengapa? Jawaban saya diambil dari sudut pandang sosiologi. Anda pasti tahu dong, kesenjangan sosial di Indonesia kan sangat tinggi. Hari ini di Indonesia ada banyakk sekali rakyatnya yang jangankan berpikir menikah dirayakan, mau makan pun sangat susah. Seperti yang Anda pasti sudah ketahui juga, salah satu hiburan rakyat kalangan menengah ke bawah di Indonesia biasanya adalah menonton TV. Ironis sekali ketika kondisi mereka yang seperti itu, mereka menonton acara seperti ini, lalu mendengar pembawa acara berkata seserahan si selebritis bisa bernilai hingga miliaran. Hanya untuk seserahan loh. Jadi bisa dibayangkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk ke seluruhan acara, sedangkan bagi sebagian besar dari mereka, bisa nonton TV saja sudah syukur. Jadinya kalau menayangkan kemewahan berlebihan seperti ini pada negara dengan kondisi yang masih begini, rasanya kurang etis ya? 🙂 Atau bahasa sederhananya, ngga enaklah terlalu berlebihan begitu.

Kalau Anda menyanggah,”tapi kan selebiritisnya mendapatkan semua itu dengan cara yang halal, ngga korupsi, ngga nunggak hutang, ngapain malu atau merasa bersalah?” berarti Anda salah tangkap yang saya maksud di atas. Yang saya bilang adalah kurang etis, bukan malu atau merasa bersalah. Kalau kita mampu membeli semua hal yang mewah dari hasil kerja keras kita, why not? Do enjoy your hard work! Tetapi antara kemampuan membeli dengan kemauan untuk mengeksposnya secara berlebihan merupakan dua hal yang berbeda. Anda membeli karena Anda mampu, tapi tujuan diekspos berlebih-lebihan apa? Apakah banyak manfaatnya bagi sesama atau hanya akan semakin memperjelas social gap yang ada di Indoensia?

“Kalau tidak suka ya tidak usah nonton” — ini adalah pernyataan yang cukup sering saya dengar dan sesungguhnya tidak memberi solusi sama sekali bagi kepentingan bersama. Tujuan saya dan orang-orang yang memberikan pendapat atau mengkritisi acara seperti ini kan demi kebaikan bersama. Lain kali mungkin bisa kali ya kita diskusi apa beda kritik yang membangun dan yang menjatuhkan. Maka jika Anda bilang; kalau tidak suka tidak usah nonton, ya betul, memang tidak saya tonton kok. :)) Kalau pun nonton, karena tidak ada acara lain lagi dan terpaksa ditonton, atau untuk dikritisi. 😄

Makanan Favorit

Janganlah dilihat dari tubuh saya yang mungil, tapi mungkin ukuran lambung saya menempati seperempat isi perut saya karena porsi makan saya kadang memang astagadotcom. Itu kenapa kalau ditanya apa makanan favorit saya, sulit sekali untuk dijawab. Tapi, jika memang harus dijawab, mungkin inilah 4 serpihan surga yang tak bisa kudustakan:

1. Kuo Tie
IMG_20140916_195942 | oleh nicetobeoki

Image: flickr.com/photos/okinice

Kalau di restoran Jepang, kita lebih mengenal makanan satu ini dengan nama Gyoza. Namun, sepertinya peradaban Kuo Tie lebih lama daripada Gyoza karena Kuo Tie berasal dari Shandong, salah satu provinsi di Tiongkok dan sudah ada sejak abad ke-7. Rasanya pun agak berbeda dengan Gyoza. Kuo Tie lebih mewakili makanan surga tingkat ke-7 kalau bagi saya. Hahaha. Apalagi kalau dimakan masih panas-panas, dan jangan lupa dicocol dengan sambalnya yang juga khas yaitu bawang putih + minyak wijen + sambal merah, wiih.. maka, nikmat mana lagi yang akan kau dustakan..? :)) Tapi, mohon maaf, makanan satu ini 100% haram alias menggunakan daging babi.

Continue reading

Alasan Menulis

Image: Yuranda M

Image: Yuranda M

Seperti yang saya tuliskan pada artikel saya yang berjudul Re-write, kurang lebih 5 sampai 6 tahun yang lalu saya sudah nge-blog sebenarnya. Konten blognya kurang lebih seperti blog ini. Pengunjung blog saya waktu itu sudah cukup banyak sampai akhirnya saya deactivate. Mengapa saya deactivate? Waktu itu ada kejadian dalam hidup saya, yang bisa dibilang salah satu turning point dalam hidup saya yang membuat saya memutuskan untuk melakukan hal ini. Intinya adalah saya merasa begitu bersalah dan malu karena saya tidak melakukan apa yang saya tulis, terutama kepada teman-teman yang membaca blog saya dan tahu apa kejadiannya.

Yet, life goes on. Tahun ini, saya memutuskan nge-blog lagi bukan karena saya yakin saya sudah melakukan semua yang saya tulis selama 5 tahun vakum ini, tetapi karena alasan sederhana saja, yaitu ya saya ingin menulis. 🙂 Saya menulis karena saya suka berbagi. Yang ingin saya bagikan adalah semua yang ada di otak saya. Sebenarnya agak serupa dengan menulis diary, tetapi interpretasinya yang berbeda. Saya tidak melulu menceritakan kejadiaannya tetapi lebih berbagi pada apa pelajaran yang saya ambil di dalamnya. Jangankan kejadian langsung pada diri saya, film Spiderman yang saya tonton saja saya analisa pesan moral di dalamnya apa. :)) Saya juga sadar bahwa pola penulisan saya cenderung terdengar sedang seperti memberikan pengajaran. Padahal sesungguhnya saya sama sekali tidak bermaksud mengajari orang lain, tetapi justru sembari berbagi, saya sembari mengajari dan mengingatkan diri saya sendiri! Kesukaan dan kemampuan saya seperti ini karena.. yah mau gimana lagi, mungkin inilah yang disebut karunia dan bawaan juga.

Jadi, mudah-mudahan saat ini saya tidak lagi memandang apa pun yang saya tulis adalah sebuah beban berat bagi saya karena saya sudah tahu tujuan saya menulis bukan untuk mengesankan orang lain tetapi untuk mengekspresikan diri saya.

Ada Apa dengan Motivator?

Quotes (47)

Walaupun tidak viral, dan pastinya tidak semua orang, tetapi belakangan profesi motivator memiliki citra yang kurang baik bagi beberapa orang. Jadi, ada orang-orang yang beranggapan bahwa para motivator hanya jago berteori saja, tetapi prestasinya sendiri tidak ada. Maksudnya, para motivator tersebut tidak ada bisnis atau prestasi apa pun, dan akhirnya bisnisnya itu ya menjadi motivator, yang artinya menjual teori mereka melalui seminar, buku, dan produk-produknya yang lain.

Setahu saya pribadi, sebenarnya dulu konsep motivator memang kebalikan dari anggapan orang yang saya tulis di atas. Jadi sederhananya, motivator adalah para kaum entrepreneur atau orang-orang sukses yang suka berbagi. Maksudnya begini, misalkan ada seseorang yang akhirnya sukses menjadi entrepreneur, lalu ia ingin berbagi pengalamannya selama ini bagaimana akhirnya ia bisa sukses agar orang lain juga bisa sukses seperti dirinya, di sinilah ia disebut motivator. Mengapa sebutannya motivator? Karena jika ia saja bisa melewati masa-masa sulitnya sampai akhirnya bisa sukses, berarti ia percaya orang lain juga bisa. Memotivasi bukan? Contohnya ini, setahu saya seperti Chairul Tanjung dan Aprie Angeline.

Continue reading

Beautiful World

Image: vk.com

Image: vk.com

Jelajahi dunia.

Pergilah ke Tiongkok untuk belajar berdagang,
berkunjunglah ke Amerika untuk memperdalam ilmu pengetahuanmu,
menginaplah di India untuk menambah pengalaman spiritualmu,

dan..

kelilingilah negara satu ini, yang bahkan bentuknya saja di peta adalah yang paling artistik dan sangat mudah diingat. Negara di mana ragam seni dan budaya bersatu. Negara di mana salah satu gunung tertinggi dan laut terindah ada di sana. Negara yang sangat cocok kamu kelilingi untuk MENIKMATI HIDUP setelah lelah belajar berdagang, menimba ilmu, dan meningkatkan kerohanianmu, apa lagi kalau bukan..

INDONESIA.