Ada Apa dengan Motivator?

Quotes (47)

Walaupun tidak viral, dan pastinya tidak semua orang, tetapi belakangan profesi motivator memiliki citra yang kurang baik bagi beberapa orang. Jadi, ada orang-orang yang beranggapan bahwa para motivator hanya jago berteori saja, tetapi prestasinya sendiri tidak ada. Maksudnya, para motivator tersebut tidak ada bisnis atau prestasi apa pun, dan akhirnya bisnisnya itu ya menjadi motivator, yang artinya menjual teori mereka melalui seminar, buku, dan produk-produknya yang lain.

Setahu saya pribadi, sebenarnya dulu konsep motivator memang kebalikan dari anggapan orang yang saya tulis di atas. Jadi sederhananya, motivator adalah para kaum entrepreneur atau orang-orang sukses yang suka berbagi. Maksudnya begini, misalkan ada seseorang yang akhirnya sukses menjadi entrepreneur, lalu ia ingin berbagi pengalamannya selama ini bagaimana akhirnya ia bisa sukses agar orang lain juga bisa sukses seperti dirinya, di sinilah ia disebut motivator. Mengapa sebutannya motivator? Karena jika ia saja bisa melewati masa-masa sulitnya sampai akhirnya bisa sukses, berarti ia percaya orang lain juga bisa. Memotivasi bukan? Contohnya ini, setahu saya seperti Chairul Tanjung dan Aprie Angeline.

Walaupun banyak tipe orang seperti ini tidak menyebut diri sebagai motivator, tetapi jika konsepnya seperti yang dijelaskan di atas, berarti siapa pun bisa jadi motivator. Misalkan, ada penyandang disabilitas yang berprestasi dalam olah raga, saat ia berbagi pengalaman dan ilmunya bagaimana sampai ia bisa berprestasi, tanpa harus berprofesi sebagai motivator pun, ia bisa disebut motivator kok.

Menjadi sebuah profesi ketika pekerjaan memotivasi ini dilakukan secara professional. Etis tidak dijadikan profesi atau bisnis sampingan? Kalau menurut saya, sah-sah saja kok. Jadinya ya bisnis jasa. Selama konten dan tujuan yang disebarkan baik, tidak masalah kok diuangkan. Karena namanya saja sudah profesional, berarti ya ada bayarannya. Belum lagi, jika sudah ada manajemen dan produknya. Kalau tidak ada penghasilan, bagaimana nasib staff-staffnya? Selain itu, menurut saya sah-sah juga mencari profit dari profesi ini. Sekali lagi, bisnis yang ditawarkan di sini kan berarti bisnis jasa, spesifiknya jasa mengajar. Maka seperti biasa, kalau sudah bekerja, ya dihargai dengan sejumlah uang. Dan sebenarnya harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pengajaran-pengajaran hidup seperti ini jika agak mahal juga wajar, karena pada dasarnya sangat berguna untuk hidup.

Maksudnya seperti ini; sesuai dengan fokusnya, di sekolah akademik, tentunya yang ditawarkan adalah pendidikan akademik (di mana ranahnya untuk kecerdasan intelektual (IQ)). Sampai saat ini sih saya masih jarang dengar ada sekolah akademik yang menyediakan dan mengutamakan modul kecerdasan emosi, pengembangan diri, kesehatan mental, dan kalau pun ada setahu saya yaitu modul character building, tapi bukan pelajaran utama juga biasanya. Namun, seperti yang kita ketahui, sekarang sekolah akademik pun banyak yang terbilang mahal, apalagi yang bertajuk internasional. Padahal, realitanya, mental dan karakter seseorang sebenarnya seringkali lebih penting dibandingkan pengetahuan akademik yang ia miliki. Jadi, kalau orang rela bayar mahal agar bisa bersekolah (akademik), mengapa tidak saat belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan karakter yang merupakan modal penting untuk menjadi pribadi yang bahagia dan sukses? Maka itu, harga yang dibayar untuk bersekolah, entah itu akademik atau pun non-akademik sering disebut sebagai investasi. Apa yang investasikan? Tentu ilmunya yang berguna untuk jangka panjang hidup kita. Namun karena berguna, bukan berarti sekolah (akademik atau pun non-akademik) jadinya buka harga sangat mahal (walaupun fenomenanya sekarang begitu xD). Misalnya begini, saya ingin bikin seminar dengan tema bagaimana menjadi kaya raya. Lalu saya jual tiket seminar saya satu orang Rp 5.000.000. Kalau begitu, dengan segera, teori seminar saya ini terbukti hari itu juga…. pada diri saya! :)) Padahal yang ikutan seminar-seminar seperti ini biasanya banyak orang yang sederhana atau bahkan kesulitan ekonomi. Mereka mau ikutan seminar untuk mendapatkan ilmu bagaimana bisa keluar dari kondisi hidupnya saat ini. Kalau harga tiketnya mahal begitu, berarti yang datang pun mayoritas juga sudah cukup berpenghasilan. Kalau seperti ini namanya mensukseskan orang yang sudah sukses dong?

Contoh di atas ini bukan permasalahan tema seminarnya seperti apa juga loh. Walaupun temanya bukan tips bagaimana menjadi orang kaya. Mungkin ada baiknya memang harga tiket seperti ini tidak terlalu mahal apalagi jika targetnya adalah perorangan (bukan corporate). Oh ya, di sini juga termasuk harga buku yang dijual ya. Mengapa? Karena tujuan menjadi motivator idealnya harusnya berangkat dari rasa peduli dan ingin menolong agar orang lain juga bisa sukses seperti mereka. Maka kalau tiket seminarnya atau buku-bukunya mahal, sehingga orang yang tadinya ingin ikutan seminar atau beli buku jadi tidak sanggup untuk ikutan. Tapi di satu sisi, seperti alasan yang sudah saya ceritakan di atas, tentunya sah-sah saja jika tiketnya berbayar. Bahkan ada baiknya berbayar, karena secara tidak langsung mengajarkan orang juga bahwa belajar di seminar atau baca buku pengembangan diri ini adalah investasi jangka panjang. Maka, jika kita memandanganya penting untuk kehidupan kita, maka kita akan berusaha cari uang untuk ikutan seminar atau beli buku tersebut. Namun jika untuk berusaha sedikit saja agar bisa beli buku yang diinginkan tidak mau, apalagi mempraktekkan yang ada di buku-buku tersebut. ­čśë

Begitu pun pendidikan akademik. Saya tahu rasanya beban bayar uang sekolah adik saya dulu. Saya pernah ngobrol dengan teman-teman, sopir grabcar, mba sales yang pernah SPG-an bareng saya saat pameran salah satu produk yang saya handle, dan mungkin ada lagi yang lain. Kami pernah ngobrol dan berbagi beban bahwa uang sekolah mahal, padahal seharusnya betul-betul murah karena pendidikan merupakan modal untuk generasi kita ke depan agar dapat bermanfaat bagi banyak orang dan kehidupan, termasuk kehidupan bernegara. Kenyataannya, malah mahal banget bukan?

Ah sudah, mari menyambung ke pembahasan tentang motivator lagi.

Kalau balik lagi ke paragraf pertama, jadi benar tidak, ada fenomena motivator yang datang-datang membawa diri sebagai motivator tanpa ada bisnis utama atau prestasi sebelumnya? Ya, mungkin bisa saja ada. Ada kok pelatihan menjadi motivator. Nah, tapi tahukah Anda? Sebenarnya ada fenomena seperti ini juga. Jadi, memang ada orang yang berbakat dan memiliki passion besar dalam mengajar atau melatih, sehingga dijadikannya bakat dan minatnya tersebut sebagai profesi atau bisnisnya sesuai dengan bidang pengajaran/pelatihan yang mereka kuasai. Dibandingkan disebut sebagai motivator, sebenarnya mereka lebih cocok disebut trainer. Mengapa disebut trainer? Karena biasanya mereka ada mengambil sertifikasi sesuai bidang pengajaran/pelatihannya, misalkan salah seorang personal development trainer, ia memiliki sertifikasi DISC. Kalau pun bukan sertifiikasi, biasanya para trainer juga di-training dulu sebelumnya untuk menjadi seorang trainer. Dan yang paling umum adalah biasanya dalam seminar para trainer, mereka tidak hanya berbicara, tetapi pengajaran mereka ada modulnya, kadang ada simulasi, kadang juga bisa disebut bukan seminar tetapi lebih seperti workshop atau kelas dengan jumlah peserta yang terbatas sehingga bisa diadakan dalam beberapa hari. Singkatnya, ada pelatihan di dalamnya. Yang mana semua ini tidak disediakan oleh motivator (dengan konsep yang saya ceritakan pada paragraf ke-2).

Di Indonesia, trainer memang sudah banyak bermunculan, tapi dibandingkan dengan sebutan trainer, di sini orang masih lebih familiar dengan sebutan motivator. Maka itu.. beberapa trainer pun tetap menyebut dirinya sebagai motivator agar branding-nya lebih cepat dan kuat. Contohnya saja, di Indonesia kan ada Relationship Trainer. Coba Anda beri tahu┬áteman Anda profesi tersebut, ada kemungkinan teman Anda tidak langsung paham. Tapi kalau Anda bilang “motivator tapi topiknya tentang relationship”, kemungkinan sih akan lebih cepat tangkap.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: