Mengkritisi Tayangan Pernikahan Mewah di Televisi

664529916473009f7af847ec2ffdfe55

Saya tidak setuju dengan acara pernikahan, kelahiran, dan lain-lain yang terlampau mewah ditayangkan di media. Mengapa? Jawaban saya diambil dari sudut pandang sosiologi. Anda pasti tahu dong, kesenjangan sosial di Indonesia kan sangat tinggi. Hari ini di Indonesia ada banyakk sekali rakyatnya yang jangankan berpikir menikah dirayakan, mau makan pun sangat susah. Seperti yang Anda pasti sudah ketahui juga, salah satu hiburan rakyat kalangan menengah ke bawah di Indonesia biasanya adalah menonton TV. Ironis sekali ketika kondisi mereka yang seperti itu, mereka menonton acara seperti ini, lalu mendengar pembawa acara berkata seserahan si selebritis bisa bernilai hingga miliaran. Hanya untuk seserahan loh. Jadi bisa dibayangkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk ke seluruhan acara, sedangkan bagi sebagian besar dari mereka, bisa nonton TV saja sudah syukur. Jadinya kalau menayangkan kemewahan berlebihan seperti ini pada negara dengan kondisi yang masih begini, rasanya kurang etis ya? 🙂 Atau bahasa sederhananya, ngga enaklah terlalu berlebihan begitu.

Kalau Anda menyanggah,”tapi kan selebiritisnya mendapatkan semua itu dengan cara yang halal, ngga korupsi, ngga nunggak hutang, ngapain malu atau merasa bersalah?” berarti Anda salah tangkap yang saya maksud di atas. Yang saya bilang adalah kurang etis, bukan malu atau merasa bersalah. Kalau kita mampu membeli semua hal yang mewah dari hasil kerja keras kita, why not? Do enjoy your hard work! Tetapi antara kemampuan membeli dengan kemauan untuk mengeksposnya secara berlebihan merupakan dua hal yang berbeda. Anda membeli karena Anda mampu, tapi tujuan diekspos berlebih-lebihan apa? Apakah banyak manfaatnya bagi sesama atau hanya akan semakin memperjelas social gap yang ada di Indoensia?

“Kalau tidak suka ya tidak usah nonton” — ini adalah pernyataan yang cukup sering saya dengar dan sesungguhnya tidak memberi solusi sama sekali bagi kepentingan bersama. Tujuan saya dan orang-orang yang memberikan pendapat atau mengkritisi acara seperti ini kan demi kebaikan bersama. Lain kali mungkin bisa kali ya kita diskusi apa beda kritik yang membangun dan yang menjatuhkan. Maka jika Anda bilang; kalau tidak suka tidak usah nonton, ya betul, memang tidak saya tonton kok. :)) Kalau pun nonton, karena tidak ada acara lain lagi dan terpaksa ditonton, atau untuk dikritisi. XD

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: