Mencoba Mengerti

Suatu pagi, seorang pria naik sebuah taksi dan pergi menuju bandara. Ketika sedang melaju cepat (pada jalur yang benar), tiba-tiba sebuah mobil hitam, tanpa memberi tanda apa pun, menyerobot mengambil jalan di depan taksi itu. Si supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobilnya berdecit dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam membuka jendela, menjulurkan kepalanya, dan memaki-maki si supir taksi. Namun apa yang terjadi? Supir taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan dengan ringan, pada orang tersebut.

Penumpangnya sangat heran dengan sikap sopir taksi yang bersahabat. Ia bertanya, “Kok Bapak bisa bersikap seperti itu? Pengemudi mobil hitam itu bisa saja menabrak dan merusak taksi Bapak, juga bisa bikin kita masuk rumah sakit!”

Supir taksi itu, kemudian menjelaskan “Hukum Truk Sampah” pada penumpangnya. Katanya, banyak orang yang seperti truk sampah. Mereka berjalan membawa “sampah”, seperti rasa frustasi, kemarahan, dan kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada Anda.

Enggak usah dimasukkan ke dalam hati,” kata bapak tua pengemudi taksi itu. “Ya, tersenyum saja! Lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil ‘sampah’ mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang Anda temui, baik di tempat kerja, di rumah, atau dalam perjalanan.”

*Sumber cerita dari internet.

***
Sudah menonton video dan membaca cerita di atas ini? Jika sudah, saya rasa sudah cukup mewakili apa yang akan saya ceritakan pada artikel ini.

Anda juga pasti pernah mengalami kejadian-kejadian seperti ini bukan? Misalkan, Anda tanya baik-baik ke resepsionis, dijawabnya judes banget, atau mungkin kebalikannya. Anda adalah customer service. Ada yang komplain suatu masalah yang sebenarnya sederhana, tapi marah-marahnya luar biasa. Bisa jadi mereka semua itu sedang membawa-bawa ‘truk sampah’nya ke mana-mana. Kita tidak tahu, bisa saja resepsionis yang judes itu sedang struggle dengan masalah pernikahannya yang tak usai-usai. Kita tidak tahu, bisa saja customer yang menelepon ke CS itu adalah orang tua tunggal, anaknya 2, bebannya begitu berat sehingga ketika ia menemukan ‘tong sampah’nya, langsung meluap keluar secara membabibuta ‘sampah’nya.

Di sini, saya sedang TIDAK membenarkan sikap mereka, tetapi lebih kepada mencoba MENGERTI kondisi seperti ini sehingga kita bisa meresponi mereka dengan lebih tenang karena saya pernah di dua belah pihak ini.

Buanglah sampah pada tempatnya dan dengan cara yang benar merupakan filosofi yang juga berlaku bagi ‘sampah hati’. Selain berdoa, curhat atau konseling kepada orang tepat merupakan salah satu cara terbaik untuk melepaskan beban di hati. Selain itu, menulis juga bisa membantu kita sedikit banyak melepaskan beban emosional loh 🙂 Cobalah sesekali.

Kalau Anda membaca artikel-artikel sebelumnya, saya selalu mencoba melihat suatu hal dari berbagai sisi. Semisal uang koin yang ada 3 sisi, ada sisi depan, belakang, dan ketebalannya. Saat di sisi sebagai ‘tong sampah’, kita dapat menguasai diri untuk tidak menyerang balik si ‘pembuang sampah’ dengan mencoba mengerti bisa saja ada kondisi seperti ini. Namun saat di sisi kitalah yang sedang membawa ‘sampah’, hal yang perlu diingat ya itu tadi bahwa alangkah baiknya segera ‘dibuang’ dengan cara yang tepat. Apalagi jika Anda adalah seorang professional. Maksud saya, misalkan kita bekerja sebagai teller bank. Lalu kebetulan kita sedang dirundung banyak masalah. Bagaimana pun kita tidak bisa jadikan masalah-masalah kita sebagai excuse (dalih) untuk membela diri saat tiba-tiba kita kelepasan nge-judesin customer kita. Kalau kita memberi excuse seperti itu, ya semua orang juga bisa bilang, “saya juga ada masalah tapi ngga gitu”. Yang artinya, mau kita ada masalah atau tidak, saat sudah bekerja, orang lain tahunya kita harus profesional. Maka itu, di sinilah tugas kita untuk bisa tetap menguasai diri agar bisa tetap membawa diri secara profesional.

Saya masih ingat waktu itu saya bersama teman-teman kuliah saya pernah mengunjungi sebuah kantor yang resepsionisnya jutek melayani kami. Lalu teman saya bilang “jadi resepsionis kok judes gitu.” Saya pun berpikir seperti ini, makanya bisa jadi ia di posisi resepsionis terus karena saat diberikan tanggung jawab sederhana yang sesuai dengan perannya saja tidak bisa ia realisasikan, bagaimana bisa ia dipromosikan untuk naik posisi lebih dari resepsionis?

Kita sudah bercerita dari sisi ‘tong sampah’ dan ‘pembuang sampah’ melaui cerita teller bank dan resepsionis di atas. Mau lihat dari sisi mana lagi? Yaitu dari sisi perusahaan/lembaga yang menaungi karyawan tersebut. Jika sudah terlanjur kejadian seperti itu, konten Public Relations (PR) terbaik yang mungkin perusahaan tersebut bisa jelaskan kepada public-nya adalah dengan memohon maaf kepada customer atas kejadian tersebut karena sesungguhnya, tidak ada perusahaan yang sempurna karena di dalamnya diisi oleh orang-orang yang tidak sempurna. =)

Terakhir, untuk menutup artikel ini, saya pernah membaca kata-kata Gautama Buddha dan beberapa mahaguru lainnya, bahwa pengertian adalah awal dari cinta, atau ada juga yang berkata kurang lebih maknanya seperti ini; saat kita bisa mengerti orang yang ‘membuang sampah’nya, membenci, mengecewakan, memanfaatkan, atau musuh kita, kita tidak akan jadi memusuhi mereka. Pernyataan mereka ada benarnya juga. Hanya dengan rasa pengertian, mungkin kita tidak serta merta mengasihi mereka yang berlaku tidak benar, karena mau mengasihi atau tidak adalah keputusan berikutnya lagi. Tetapi karena pengertian adalah AWAL dari cinta kasih, maka paling tidak, kita tidak akan membenci, mendendam, atau memusuhi mereka.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

One thought on “Mencoba Mengerti

  1. […] para pendemo (sopir asli) tersebut. Tapi seperti yang saya ceritakan di artikel saya sebelumnya ini, terkadang kita perlu memahami juga bahwa selalu ada latar belakang mengapa seseorang berperilaku […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: