Sebagian Besar Hidup adalah Pilihan

Screenshot_2015-08-30-23-16-11

Ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih di dunia ini, misalkan kita lahir di keluarga mana, lahir sebagai pria atau wanita, lahir dengan membawa bakat apa, dan kejadian apa yang tiba-tiba bisa terjadi hari ini (misalkan tiba-tiba kita kecopetan walaupun kita sudah memilih jalan yang aman). Tapi, ternyata hal-hal yang tidak bisa kita pilih tersebut presentasenya mungkin hanya kurang lebih 10% dalam hidup kita, APALAGI jika usia kita sudah 21 tahun ke atas yang secara harafiah disebut usia dewasa. Saat usia kita sudah 21 tahun ke atas, betul-betul tanggung jawab ada di diri kita dalam mengambil setiap keputusan hidup.

Saat belum mengambil keputusan, semuanya adalah pilihan. Saat sudah terjadi barulah disebut takdir. Jadi, takdir ada di tangan kita dong? Di sini saya tidak mau mendebatkan takdir di tangan siapa. Tetapi, karena jika filosofi bahwa 90% dari hidup adalah pilihan dan memang betul sih seperti itu, maka hari ini bagaimana cara hidup, apa pekerjaan, dan siapa pasangan kita ya memang itu PILIHAN KITA.

Tapi pernahkah Anda merasa bahwa hidup ini seolah-olah seperti sudah ada yang atur? Contoh paling sederhana, saya pernah di-interview untuk menjadi narasumber di sebuah majalah. Tahukah itu bermula dari mana? Jadi, semenjak tahun 2011 saya bekerja di industri digital marketing. Suatu hari saya memerlukan buzzer untuk salah satu brand yang saya pegang. Lalu, saya menemukan salah satu akun pseodonim yang cocok dengan brand tersebut, dan tentu langkah berikutnya adalah saya menghubungi admin dari akun yang saya maksud. Nah, saya lupa berapa lama tepatnya, setelah selang beberapa bulan, tiba-tiba admin akun tersebut menghubungi saya via email dan ternyata ia sudah bekerja di majalah. Lalu ia pun menawari saya untuk menjadi narasumber di majalah tersbeut! See? Kalau saya tidak menghubunginya waktu itu, ia tidak akan menyimpan alamat email saya, sehingga ia tidak bisa menghubungi saya, dan tidak akan ada kejadian hari itu di mana akhirnya saya menjadi narasumber majalahnya. Dari kejadian sesederhana ini mungkin rasanya seperti semua sudah ada yang atur, tapi sebenarnya semua itu terjadi atas pilihan kita sendiri bukan? Saya melihat adanya korelasi kejadian satu dengan kejadian berikutnya ini bukan karena semua sudah diatur, tetapi lebih disebut sebagai serendipity. Apa itu serendipity? Sederhanya saja serendipity menjelaskan kita tentang one thing leads to another, and it happens for a good reason. Ya, kita mengalami kejadian A di masa lalu, itu biasanya berhubungan atau mempengaruhi keputusan kita di masa kini/depan sehingga terjadilah kejadian B nantinya. Maka itu, kita sering mendengar pesan moral seperti jangan menyesali masa lalu, atau terima apa pun yang sudah terjadi karena apa pun yang terjadi dan siapa pun yang kita temui, ada alasan/tujuan (baik) di belakangnya, dan semacamnya.

Contoh lainnya lagi, rasa ingin tahu saya cukup besar, saya suka bercerita dan saya suka menulis. Saya sadar bahwa bakat dan minat tersebut genetik. Maka, saya percaya gen ini sedikit banyak mempengaruhi saya memutuskan pilihan untuk menjadi jurnalis 5 tahun yang lalu. Namun pastinya dalam hidup kita mengalami berbagai kejadian yang terus mempengaruhi kita mengambil keputusan-keputusan berikutnya. Contohnya, 5 tahun lalu saya berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis tetapi karena beberapa kejadian, tidak berapa lama saya masuk ke industri digital marketing. Dari sinilah, saya banyak belajar tentang berkarier dan berbisnis. Saya pun menemukan bahwa selain bekerja di bidang jurnalistik, (walaupun saat ini masih dalam tahap belajar) saya memiliki kemampuan dan suka berbisnis. Ini pun ada pengaruh gennya juga. Jadi, ayah saya punya bakat menulis dan beberapa bakat seni lainnya, sedangkan ibu saya punya kemampuan berdagang. Dari semua inilah (genetik dan pengalaman hidup) akhirnya mempengaruhi saya mengambil keputusan untuk berkarier seperti ini dan itu hingga saat ini.

Sama juga mengenai pasangan hidup. Misalkan, saat ini ada seorang pria/wanita yang dekat dengan Anda dan nyaris semua yang Anda butuhkan dan inginkan, atau yang Anda cari ada pada pria/wanita ini. Hanya saja, kebetulan sekali ia tidak seiman dengan Anda, sedangkan selama ini bagi Anda keseimanan itu penting. Yaa.. berarti itu kan kembali lagi PILIHAN ANDA mau tetap bersamanya atau tidak. Betul bukan?

Tidak mungkin setiap kali Anda mengambil keputusan dalam hidup itu karena Anda habis mendengar seperti ada suara mengaung dari langit yang berkata “haiii.. pilih yang ini sajaa..” kecuali kalau Anda mengalami scizrophenia yang menganggap itu nyata.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: