Pentingnya Belajar Ikhlas Melepaskan

“Ternyata belajar MELEPASKAN lebih penting daripada belajar menggapai.”

air

Tahukah Anda? Belajar untuk menggapai sesuatu itu penting tetapi belajar untuk menerima bahwa APAPUN yang kita miliki (jangankan hal-hal materiil, bahkan talenta kita dan orang-orang yang kita kasihi) adalah BUKAN milik kita ternyata JAUH LEBIH penting! Yes, what we have is not our belonging. Dan siapa pun untuk sampai ke fase ini JELAS proses dan perjalanan yang dilewati sangatlah TIDAK MUDAH.

Saya pernah mendengar secara langsung pernyataan beberapa orang guru besar bahwa walaupun mereka sangat menyayangi anak atau pun istri mereka, namun mereka sadar sepenuhnya orang-orang terkasih mereka tersebut BUKAN milik mereka. Maka, mereka menyatakan mereka sudah SIAP dan RELA melepeskan anak atau istrinya jika kapan saja memang harus berpisah walaupun untuk selamanya. Wow, luar biasa ya kedengarannya? Tetapi saya yakin, untuk sampai pada fase bisa mengutarakan statement seperti itu, prosesnya pasti banyak, panjang, dan tidak mudah.

Saya sadar betul saya bukan seorang guru spiritual seperti mereka, makanya saya tidak berani memberikan statement sampai sedalam itu apalagi menjamin saya dapat melakukannya, tetapi apa pun jalan atau panggilan hidup kita, mau tak mau kita perlu menyadari dan menerima konsep kehidupan satu ini. Karena dalam hidup, kita pasti akan mengalami yang namanya kehilangan, perpisahan, penyesalan, kegagalan, dan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Dan kejadian-kejadian ini pun (sangat) bisa terjadi lebih dari sekali dalam hidup kita, serta subjeknya bisa apa dan siapa saja. Ketika kita sulit menerima kenyataan-kenyataan itu, maka kita akan mengalami kekewecaan yang begitu berat hingga mungkin depresi. Apalagi, semakin kita melekat terhadap apa yang kita miliki tersebut, biasanya semakin tidak mudah melepaskannya.

Bahkan seorang entrepreneur pun yang biasanya karakternya ‘dituntut’ lebih tough dan tegar adalah orang-orang yang juga sadar dan harus mampu menerima konsep kehidupan satu ini, untuk membuatnya justru semakin tegar. Contohnya saja begini; pasti pernah mendengar cerita entrepreneur yang sudah membangun usahanya begitu lama dengan perjuangan yang tidak mudah pastinya, lalu bangkrut karena berbagai penyebab dan harus mulai lagi dari nol. Kondisi seperti itu pastinya tidak mudah. Sudah dibangun lama-lama dan capek-capek, namun dalam kurun waktu yang singkat harus kehilangan semuanya, bisa bayangkan dong bagaimana perasaannya? Tapi, dalam hidup ini, ada yang lebih berat lagi dibandingkan kehilangan hal-hal materiil, misalkan kehilangan orang-orang atau hal-hal terkasih, dan apapun yang selama ini kita anggap penting dan kita perjuangkan.

Namun, di antara semuanya, tahukah Anda bahwa KEHILANGAN INTEGRITAS merupakan salah satu kehilangan yang paling berat karena efeknya dapat membuat banyak hal-hal lainnya ikut hilang juga. Ketika kita kehilangan integritas, biasanya kita kehilangan social life karena runtuhnya kepercayaan orang terhadap kita, termasuk orang yang betul-betul mengasihi kita. Bisa juga kita kehilangan kesehatan karena setelah tragedi hilangnya integritas, karena biasanya kita akan dirundung perasaan bersalah yang begitu dalam, maka yang sakit bukanlah tubuh tapi mental/emosi kita. Sakit emosi/mental biasanya akan terpresentasikan pada kondisi tubuh yang semakin lemah dan sering sakit-sakitan karena emosi negatif mempengaruhi turunnya daya tahan tubuh. Bukan saja itu, hilangnya integritas biasanya juga menyembabkan kita kehilangan diri. Mengapa? Karena apa yang sudah kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya kita lakukan padahal kita tahu apa yang harusnya dilakukan. Jika sudah begini, kita akan masuk PR berikutnya yaitu, kita harus bangun kembali integritas kita dan itu bukan perkara yg mudah! Karena itu tugas kita seumur hidup untuk membuktikannya.

Pada tahun 2014 saya mengalami depresi berat. Saya mengalami hampir semua gelaja penyakit mental, dari gejala psikosomatik, gejala histeria, saraf sangat tegang dan kaku, hingga gejala bipolar. Padahal, tahun 2014 saya full freelance dan di rumah terus. AKAR permasalahannya waktu itu sebenarnya bukan karena pekerjaan yang terlampau banyak, tidak liburan, atau pun kondisi keluarga. Itu semua adalah hal-hal yang membuat depresi saya semakin berat. Akarnya sendiri adalah karena di tahun-tahun sebelumnya saya sempat terlalu berambisi dan sombong. Maka, di saat ambisi saya tidak tercapai, saya begitu marah, kecewa, gelisah, kebingungan, dan benar-benar tidak mampu menguasai perasaan saya tersebut sehingga saya mengambil keputusan secara begitu emosional dan sembrono. Dan seperti yang Anda tahu, penyesalan pun biasa datang belakangan.

Mungkin di lain waktu bisa saya ceritakan sebenarnya apa yang terjadi di tahun 2014 pada artikel yang berbeda. Namun, poinnya adalah sejak kejadian di tahun 2014 itulah, jadinya mata hati saya betul-betul terbuka dan menemukan banyak hal termasuk esensi kehidupan satu ini. Di tahun 2014 itu, saya betul-betul seperti ‘dipaksa’ Tuhan untuk belajar ikhlas dan menerima apa pun yang sudah terjadi dalam hidup saya, melepaskan apa yang saya anggap penting dan banggakan, yang mana JELAS TIDAK MUDAH dan sangat PEDIH saat mempraktekkannya. Dan ini adalah proses seumur hidup juga, karena kan tidak mungkin kita mengalami kehilangan, kekecewaan, perpisahan dan lain-lain hanya di satu tahun. Maka itu, di tahun 2015 ini pun jelas saya ada mengalami lagi proses-proses ini juga walau tidak sebanyak di tahun 2014 karena tahun 2014 benar-benar bagaikan tahun ujian buat saya. Misalkan, di pertengahan tahun ini anjing peliharaan saya mati bukan karena sudah tua, tapi diracuni orang! Jelas saya sangat terpukul saat itu. Dan di saat yang bersamaan, seperti yang Anda ketahui, kadang kalau sedang ada 1 masalah datang, beberapa masalah bisa tiba-tiba menyusul. Maka ada beberapa masalah juga terjadi saat itu. Tapi, nothing lasts forever. Namanya hidup, masalah selalu ada. Namun pada akhirnya akan lewat juga dan kembali lagi, kita harus menerima apa pun yang sudah terjadi dalam hidup kita. Lama kelamaan pun saya merasa lebih siap saat harus melepaskan dan mengikhlaskan apa pun yang terjadi dalam hidup saya, karena mungkin sudah membiasakan diri untuk mempraktekkannya. TAPI, sekali lagi, saya bukan biksu, guru spiritual dan semacamnya. Jadi betul bahwa saya terus belajar untuk bisa melepaskan, tetapi hingga saat ini sih saya tidak menyerah akan mimpi-mimpi saya. Hanya saja, mungkin tidak terlalu ngoyo seperti dahulu.

Don’t be too hard to yourself. Be more gracious to yourself adalah pesan yang dulu sering disampaikan beberapa teman untuk diri saya yang sampai saat ini selalu saya usahakan untuk saya praktekkan. Ya, hidup ini seimbang. Maka saya percaya jika dalam hidup ini kita bersedia ikhlas melepaskan hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan, maka sebenarnya Tuhan sudah siapkan penggantinya yaitu dengan hal-hal yang lebih sesuai dengan yang kita butuhkan, bahkan mungkin lebih banyak dan lebih indah daripada yang bisa kita bayangkan. 🙂

Beprasangkalah baik terhadap hidup ini. Pada dasarnya rencana Tuhan selalu baik. Mana mungkin Tuhan menciptakan kita dengan tujuan hanya untuk menderita dan berjuang di dunia ini. Maka itu juga, Ia tidak mungkin mengambil sesuatu dari kita tanpa disediakan penggantinya.

Maka hari ini, mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi yang lebih ikhlas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: