Dasar-dasar Ilmu Komunikasi

kom

Saya mengambil jurusan Public Relations saat kuliah. Ada banyak pertimbangan mengapa saya mengambil jurusan ini. Namun, saat ini yang ingin saya bagikan adalah ilmu komunikasi yang saya dapatkan semasa kuliah dan sepanjang yang saya tinjau dan praktekkan.

Banyak yang beranggapan, kalau komunikasi itu apa sulitnya sih? Kan ‘cuma ngomong’ doang? Nah, kalau betul komunikasi itu hanya sebatas ‘ngomong’ / ‘berbicara’ doang, mengapa sampai ada fakultas komunikasi di jenjang perkuliahan? Bahkan tempat kuliah saya dulu khusus menyediakan fakultas komunikasi saja. Maka itu disebut Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi. Belum lagi, di setiap perusahaan, terutama perusahaan yang sudah mumpuni, pastinya ada divisi komunikasi. Divisi komunikasi itu biasanya menaungi bagian marketing, public relations, dan advertising, yang mana bagian-bagian ini penting bukan untuk sebuah perusahaan? Belum lagi, banyak loh hubungan antar manusia, dari skala kecil misalkan keluarga sampai skala besar seperti perusahaan yang menjadi semakin baik atau semakin renggang karena hanya masalah komunikasi.

Bahkan sebuah survey yang diterbitkan oleh National Association of Colleges and Employers, USA, 2002 menunjukkan bahwa dari 20 kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk sukses, kemampuan komunikasi menempati urutan pertama. Ini merupakan bukti bahwa komunikasi memiliki peranan penting dalam membawa perubahan hidup manusia ke arah yang lebih baik.

Nah, berikut ini adalah dasar-dasar ilmu komunikasi yang saya pelajari selama hidup saya:

1. We cannot not to communicate
Yang artinya kita tidak dapat tidak berkomunikasi. Maksudnya begini, kebanyakan dari kita berpikir komunikasi = berbicara (komunikasi verbal), padahal komunikasi terdiri dari banyak bentuk termasuk komunikasi non-verbal yaitu seperti gerak-gerik tubuh, ekspresi wajah, dan perilaku. Jadi, ketika kita DIAM sekali pun, itu adalah sebuah bentuk komunikasi juga. Contohnya, saat Anda sedang tidur, yang Anda komunikasikan adalah Anda sedang lelah dan mengantuk maka Anda tidur. Contoh lain lagi, Anda diam setelah bertengkar dengan seseorang, yang dikomunikasikan dari aksi diam Anda adalah Anda sedang ngambek atau mengalah (tergantung apa respon Anda). Contoh terakhir, Anda menguap berkali-kali, maka yang dikomunikasikan dari aksi Anda tersebut adalah Anda sedang mengantuk.

2. Komunikasi intrapersonal mempengaruhi komunikasi interpersonal
Bagian ini cukup mendalam sebenarnya kalau mau dijelaskan. Sederhananya begini, jika kita selama ini memandang diri dan melakukan self-talk yang negatif misalkan kita tidak layak, tidak diinginkan, tidak disukai, dan lain-lain, itu biasanya mempengaruhi komunikasi kita terhadap orang lain. Contohnya seperti ini, ada sekelompok teman-teman Anda ingin jalan-jalan dan mereka tidak mengajak Anda. Lalu, karena terbiasa melakukan negative self-talk, Anda merasa minder sendiri dan beranggapan dengan sengaja Anda tidak diajak mereka. Setelahnya, Anda berkata kepada mereka, bahwa Anda merasa tidak dibutuhkan/diinginkan maka tidak diajak. Atau, Anda tidak mau menghubungi mereka lagi karena merasa seperti itu. Padahal bisa saja mereka betul-betul lupa tanpa bermaksud melupakan Anda. Di sinilah terjadi konflik karena komunikasi yang tidak efektif. Untuk poin ini, tentunya masih banyak sekali contohnya. Tapi untuk saat ini, cukup segini dulu ya.

3. Komunikasi yang efektif bukan berawal dari seberapa hebat Anda berbicara dalam bentuk apa pun, tapi dari mendengarkan 
Proses komunikasi bisa menjadi efektif jika antara komunikator menerapkan kelima poin ini saat berkomunikasi; Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble (REACH). Penjabaran poin ini mungkin akan saya jelaskan satu-satu lain kali. Namun, sederhananya adalah jika kelima poin ini dijabarkan, semuanya mengerucut pada sebuah prinsip yaitu komunikasi efektif dimulai dari MENDENGARKAN dan MEMAHAMI lawan bicara. Seperti yang dikatakan oleh Public Relations dan Marketing Communications Professional, Debra Bennets, bahwa jika kita dapat mengetahui isi pikiran seseorang, maka kita dapat menemukan cara untuk terhubung (nyambung) dengan mereka. Nah, mendengarkan lawan bicara (dengan memiliki unsur kelima poin di atas) adalah cara untuk mengetahui dan memahami isi pikiran seseorang.

*Referensi: Cafemotivasi.com

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: