Fenomena LGBT, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Respon Masyarakat?

CAST-THE-FIRST-STONE
Beberapa waktu yang lalu marak isu LGBT. Maraknya isu ini membuat saya ingin menyuarakan pendapat juga dan akhirnya kesampaian sekarang.

Saya punya teman-teman gay, bahkan salah satu di antaranya adalah teman dekat saya. Namun, apa yang akan saya tuliskan nantinya di sini, alasannya tidak semata-mata karena teman saya gay maka saya berada di pihaknya, karena di sini saya akan bercerita melalui sudut pandang saya pada isu LGBT ini sendiri secara lebih luas.

1. LGBT itu penyakit, pilihan, genetik, atau ketidakseimbangan hormon?
Saya bukan dokter dan saya tidak membaca semua literatur tentang LGBT. Tapi, sejauh yang saya tahu, LGBT bukan penyakit dan juga bukan pilihan. Pilihan di sini maksudnya seperti kita mau memilih jurusan kuliah. Logika sederhananya saja, apa mungkin orientasi seksual itu sebuah pilihan, apalagi semudah seperti memilih jurusan kuliah? Sekarang jika kamu seorang heteroseksual, apa mungkin kamu ingin beralih memilih menjadi homoseksual? Andaikata kamu mengalami trauma karena hubungan dengan beberapa lawan jenis kamu dahulu, lalu apakah kamu serta merta akan berpikir untuk menjadi homoseksual saja agar tidak trauma lagi? Tidak, bukan? Lalu, kalau LGBT adalah penyakit, penyakit apa? Psikologis atau biologis? Banyak LGBT yang hidupnya baik, bahagia, dan berprestasi. Kalau memang itu penyakit psikologis, bagaimana juga hidupnya dapat bahagia? Yang ada mereka tidak bahagia karena faktor dari luar yaitu tekanan dan penolakan lingkungan, bukan karena faktor LGBT mereka dari dalam. Kalau itu penyakit biologis, berarti bisa diciptakan obat minumnya kah? Kalau itu penyakit biologis, bukankah banyak LGBT yang sehat walafiat dan panjang umur?

Jika ditanya apakah itu genetik atau susunan hormon yang tidak seimbang? Jelas saya tidak bisa jawab. Yang bisa saya utarakan adalah kaum homoseksual itu memang sudah ada dari zaman dahulu. Sejauh apa dahulunya, jujur saja saya kurang tahu. Yang pasti pada zaman Romawi dan Yunani kuno, kaum homoseksual sudah ada. Dari sini, sebenarnya tak bisa dipungkiri bahwa kaum homoseksual itu memang ada di dunia ini. Jadi, ingin mengisolasi kaum homoseksual itu menurut saya sebuah kesia-siaan.

Teman dekat saya yang gay itu merupakan seorang tipe cendekiawan. Tahukah kamu, bahwa teman saya itu pun sempat mempertanyakan mengapa ia gay sehingga ia mencari tahu secara mendalam tentang dunianya ini. Jadi, marilah berempati, karena tanpa diisolasi pun, pada dasarnya mereka sudah merasa terasing dan sendiri di awal, karena jumlah mereka yang minoritas. Perasaan itulah yang membuat teman saya dan mungkin banyak gay di luar sana yang tentunya juga berharap jika mereka punya anak yang diadopsi, anak mereka akan tumbuh sebagai heteroseksual, bukan homoseksual.

Saya dan teman saya ini sering berbagi cerita. Dari apa yang ia pelajari selama ini, ia pun bercerita bahwa setiap mahluk hidup pada kingdom animali memang mempunyai kecenderungan bi-sexual (tertarik pada lawan jenis dan sesama jenis). Saya pun teringat dosen saya dulu (yang juga saya anggap sebagai guru saya, dan ia heteroseksual fyi) pernah bercerita bahwa manusia heteroseksual memiliki hormon sekian persen (sangat sedikit, tapi saya lupa angka pastinya berapa) yang membuat kita bisa terpesona dengan sesama jenis. Padahal, jika mau dibilang 100% heteroseksual, kita sama sekali tidak bisa terpukau dengan sesama jenis. Maksudnya, jika kamu (pria), seharusnya kamu tidak bisa memuji pria lain ganteng karena itu 100% bagiannya wanita (begitu pun sebaliknya). Tapi ternyata, entah kamu pria atau pun wanita (heteroseksual), pasti pernah kan memuji sesama jenis kamu, tampan atau cantik? Ya, hormon sekian persen itulah yang mengatur kecenderungan ini.

Teman saya pun menambahkan bahwa dari masa ke masa, jumlah homoseksual pada setiap populasi kurang lebih hanya 10% dari jumlah keseluruhan populasi tersebut. Jadi, kalau misalkan sekarang ada 7 triliyun manusia di bumi ini, maka jumlah LGBT-nya kurang lebih ada 10% dari 7 triliyun ini. Oleh karena itu, berpikir bahwa kaum LGBT ingin melakukan propaganda untuk memperbanyak kaumnya merupakan pola pikir yang berlebihan menurut saya. Karena tanpa diperbanyak pun, dari dahulu kaum ini sudah ada dan ternyata riset menemukan tentang keberadaan mereka yang 10% ini bukan? Kalau jumlahnya tambah banyak dari tahun ke tahun, ya wajar saja, karena jumlah pertumbuhan populasi kan juga naik.

Jadi, mengapa ada homoseksual di dunia ini? Sederhananya saja kalau dari sudut pandang teman saya, itu hanya bagian dari variasi seksual yang ada di dunia ini.

2. Reaksi terhadap LGBT
Nah, inilah bagian yang lebih penting. Jadi, saya sering melihat di social media bagaimana reaksi orang terhadap LGBT yang mana banyak sekali yang memandang LGBT ini adalah sebuah dosa. Entah memang benar LGBT ini dosa atau bukan, concern saya hanya satu; apa pun dosanya, bisakah memperlakukan manusia lainnya lebih manusiawi?? APALAGI bentuk ‘dosa’nya ini tidak menyakiti dan merugikan orang lain juga toh? Ini urusan pribadinya sendiri. Atau, para komentator tersebut merasa takut para kaum LGBT ini akan mempengaruhi anak cucu mereka menjadi LGBT juga? Jika iya dan jika kamu salah satu di antara mereka, mohon bisa baca kembali poin nomor 1.

Saya miris sebenarnya setiap kali membaca komentar-komentar orang yang begitu pedas terhadap kaum LGBT seolah-olah LGBT ini sangat hina, seakan-akan LGBT itu adalah dosa yang teramat berat atau sejenis dosa di urutan pertama di atas dosa-dosa lainnya. Rasanya saya ingin bertanya kembali kepada para komentator tersebut, situ udah paling bener? Saya heran mengapa mereka tidak sebegitu keras, pedas, dan giatnya bersuara terhadap dosa-dosa lainnya lainnya yang menurut saya lebih-lebih merugikan banyak orang, misalkan kepada koruptor yang jelas-jelas sudah mengambil hak-hak rakyat hingga tak ternilai jumlahnya, atau kepada para pemerkosa yang jelas-jelas dapat meninggalkan trauma sangat mendalam bagi korbannya. “Oh, selain LGBT, saya sudah pernah kok mengutuki dosa-dosa lainnya yang disebutkan barusan.” — misalkan ini tanggapan mereka kepada saya, maka saya akan menyampaikan kembali apa yang tertulis pada paragraf sebelum ini.

Saya pernah ditanya oleh seorang teman, apakah saya mau punya anak gay? Jawaban saya (dan mungkin kita semua) berharap anak kita heteroseksual pastinya. Seperti cerita saya pada paragraf ke-5 di atas, bahkan teman saya yang homoseksual pun yang ingin mengadopsi anak, ingin anaknya tumbuh menjadi heteroseksual, apalagi kita yang heteroseksual. Tapi, jika saya bertemu dengan orang heteroseksual yang perilakunya buruk, ngomongnya kasar, pahit, munafik, serakah, dan sombong, lalu bertemu orang homoseksual yang perilakuknya baik, tutur katanya jujur dan membangun, pandai, rendah hati, dan berprestasi, jelas saya lebih memilih berteman dengan yang homoseksual. Saya bukan guru agama apalagi malaikat. Maka saya jarang mencap sesuatu berdosa atau bukan. Tapi, kalau bisa dilabelkan sebagai dosa, menurut saya, orang heteroseksual pada contoh saya di atas ini, dosanya lebih mengerikan dan merugikan bagi sesama umat manusia dibandingkan ‘dosa’ menjadi homoseksual.

Kita semua adalah orang berdosa. Coba bayangkan jika diri kamu ditolak sedemikian rupa oleh lingkungan kamu karena dosa kamu. Apalagi dosa yang kamu perbuat tersebut selama ini juga ternyata tidak menyakiti atau merugikan orang lain. Saya yakin kamu tidak mau diperlakukan seperti itu. Pada posisi itu, kamu pasti akan berkata hal yang sama pada lingkungan kamu bahwa mereka pun manusia yang berdosa juga. Lalu, mengapa menghakimi kamu sampai sebegitunya?

Kalau kamu merasa; “kalau saya kan berusaha tobat. Kalau si LGBT tuh tidak”, maka mohon baca kembali paragraf-paragraf di atas. Sampai saat ini pun sebenarnya belum ada kata mutlak yang meng-iyakan LGBT adalah perihal hormon, gangguan psikologis, atau apa pun juga. Lalu, siapalah kita yang melabelkan bawha iya itu dosa. Agama kamu berkata bahwa gay adalah mutlak merupakan dosa? Oke, kalau begitu bisa baca juga ayat lainnya tentang bagaimana memeperlakukan orang yang berdosa?

Tahukah kamu? Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, tanpa perlu diasingkan, pada dasarnya mereka pun sudah merasa ‘sendirian’ karena kondisi mereka yang ‘berbeda’ dibandingkan mayoritas umat manusia yang heteroseksual. Dan karena mereka minoritas, mereka jelas tahu salah satu konsekuensi yang mungkin diterima adalah penolakan dari kaum mayoritas. Tahu akan konsekuensi itu, maka saat ini masih banyak homoseksual yang denial (menolak diri atau menutup diri) bahwa mereka adalah homoseksual. Nah tahukah kamu, perasaan-perasaan seperti itu sangatlah TIDAK MENYENANGKAN dan TIDAK NYAMAN. Saya heteroseksual, tapi saya sangat mengerti perasaan satu ini. Saya tahu dengan pasti bagaimana merasa ‘berbeda’ dari kebanyakan orang, sehingga saya juga mengerti rasanya seperti merasa ‘sendiri’ dan menjadi ‘minoritas’. Sama seperti kaum LGBT, saya perlu waktu panjang untuk menerima dan berdamai dengan kondisi saya yang ‘berbeda’ ini. Saat ini kalau saya bisa lebih santai menceritakan luka batin (scar) yang sempat saya alami, ini prosesnya setengah mati (dalam arti sesungguhnya) dan butuh memakan waktu seperempat abad ini. :))

3. Orang jahat selalu ada di kaum mana pun, entah heteroseksual maupun homoseksual
Orientasi seksual memang bukan sebuah pilihan seperti ingin memilih jurusan kuliah, tapi anehnya, menurut riset yang ditelusuri oleh kawan saya, homoseksual ini bisa menular JIKA terjadi SEXUAL INTERCOURSE. Kehidupan ini berserta segala isinya memang terlalu besar dan penuh misteri untuk diselami. Kawan saya pun tidak tahu mengapa bisa begitu.

Lalu, mendengar hasil riset ini, apakah jadinya kita mengawatirkan bahwa kaum homoseksual akan melakukan pemerkosaan terhadap anak cucu kita yang heteroseksual lalu jadi ketularan? Kalau ya terpikir seperti itu, itu sih drama dan dangkal banget kalau saya bilang. :)) Yang namanya pemerkosa atau pelaku kejahatan seksual apa pun ya pasti ada di kaum mana saja. Di kaum heteroseksual JELAS ADA. Begitu pun pasti ada juga di kaum homoseksual. Se-simple itu.

Lagipula, jika kamu adalah tipe orang yang memandang LGBT itu dosa, bukankah tugas kita MENOLONG orang berdosa untuk bertobat? Jika kamu bilang si LGBT-nya lah yang tidak mau ditolong, ya sudah, itu hak mereka, karena orang yang paling tidak bisa ditolong adalah orang tidak mau menolong dirinya sendiri (walaupun kalau dari saya ya tidak ada yang perlu ditolong juga sih untuk orientasi homoseksual itu sendiri). Kalau ternyata kamu tidak bisa atau gagal menolong mereka, ya sudah juga, yang penting kamu sudah berusaha. Nanti kan ada pahalanya sendiri. Tapi, kalau menolong saja tidak, paling tidak TIDAK PERLU lah menyakiti mereka.

 

 

Advertisements

Tagged: , , , , ,

2 thoughts on “Fenomena LGBT, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Respon Masyarakat?

  1. Hatake Nabila Oey May 3, 2016 at 8:20 am Reply

    Betuuuuuuuulll. Saaaaangaaat setujuu!

  2. […] ini sama seperti salah satu poin yang saya tulis di artikel tentang LGBT. Adakah kaum LGBT yang jahat? Ya pasti ada, sama seperti kaum heteroseksual, ada yang baik, ada […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: