Film Indonesia Favorit: AADC

“Kisah Rangga dan Cinta itu kayak serial TV ya. Nggak kelar-kelar.” -quoted from the movie.

Kemarin hari Kamis tanggal 5-5-2016, saya menonton sekuel dari film legendaris di Indonesia, yaitu Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2). AADC merupakan film favorit saya. Mengapa saya menyukai film satu ini? Sebelum saya memberi pendapat untuk sekuelnya yang ke-2 ini, saya ingin mengomentari yang pertama dulu ya.

Ada Apa dengan Cinta (AADC)

Ada Apa dengan Cinta? (AADC)

Bukan saja saya, bagi beberapa penikmat film yang saya kenal, mereka pun berkata bahwa film legendaris ini memang bagus. Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro ini memang layak disebut melegenda karena; pertama, film inilah yang menjadi titik balik bangkitnya kembali perfilman Indonesia setelah sempat vakum selama belasan tahun. Saat itu, film ini betul-betul fenomenal, dan setelahnya, mulai banyak film Indonesia bermunculan lagi. Kedua, filmnya sendiri pun memang bagus. Kalau tidak bagus, bisa jadi, tidak booming. Kalau tidak booming, mungkin bukan ia sebagai titik baliknya.

Dibuat oleh para seniman dan filmmaker yang andal, nggak aneh sih kalau dari segala sisi, film ini memang apik. Kita mulai bahas dari ceritanya dulu ya. Jelas saya belum menonton seluruh film drama di dunia ini, tapi sejauh yang sudah saya tonton, sepertinya baru AADC yang menceritakan bagaimana ada sepasang manusia bisa bertemu, dipertemukan oleh: puisi.

Berikutnya, inilah alasan yang membuat film ini makin keren. Film ini makin nyeni dan makin romantis sebagai film drama karena ada rentetan puisi di dalamnya. Bagusnya lagi adalah, karakter kedua pemeran utamanya kan ceritanya berbeda, yang satu anti sosial sedangkan yang satu lagi menonjol, tapi dua-duanya bisa menulis puisi, sampai akhirnya puisi mempertemukan mereka. Isn’t it so romantic?

Dari segi artistik juga bagus. Antara adegan dengan backsound, serta perpindahan satu scene dengan scene berikutnya itu pas. Lalu, dari segi pemain dan akting. Bukan saja sekadar Nico memang tampan dan cool, dan Dian yang cantik dan outstanding, yang memang tepat pilihannya, karena sesuai dengan karakter Rangga dan Cinta, tapi chemistry antara mereka berdua juga dapet banget! Di AADC 1, saya berasa gemes banget dengan pasangan ini. Betul-betul terlihat cocok dan berasa sekali seperti ada dua muda-mudi yang memang lagi saling jatuh cinta. Apalagi pas adegan Rangga menatap Cinta yang sedang berpuisi di atas panggung kafe di mana mereka berkencan. Duh, gimana ya jelasinnya? Ibaratnya, dengan karakter Rangga yang begitu dingin, sehingga perasaannya itu hanya bisa diungkapkan lewat tatapannya. Dan tatapannya seperti berkata “She is adorable and I really want her”

Intinya, eksekusinya bagus.

aadc2

Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2)

Nah, gimana dengan AADC2 yang sekarang masih tayang di bioskop-bioskop? Buat saya, bagus, tapi……..

Satu, tetap tidak bisa mengalahkan AADC yang pertama!

Sejujurnya saya orang yang antara setuju tidak setuju dengan adanya AADC2. Tidak setujunya dulu deh. Kurang setujunya saya itu karena sebenarnya gini. AADC1 kan legendaris banget tuh. Jadi, harusnya dibiarkan jadi satu-satunya saja sih maksud saya. Karena kalau ada sekuelnya, sekuel punya beban tersendiri yaitu harus bisa paling tidak menyeimbangkan kualitas yang pertama. Dan itu bukan tugas mudah, apalagi mengingat AADC1 itu legendaris. Makanya di luar negeri, film drama, jarang ada sekuelnya, apalagi yang fenomenal. Coba saja, Titanic dibikin sekuelnya Titanic 2. Sounds cheesy kan? Atau, Lake House 2, 50 Days First Date 2, dan lain-lain.

Tapi, di sisi lain, juga ya okelah kalau mau dibikin sekuelnya, karena di AADC1 akhir ceritanya kan Rangga ke luar negeri. Jadi dari situ, ibaratnya masih bisa dibikin sambungannya. Setelah terpisah oleh jarak yang begitu jauh, terus apa yang terjadi dengan sepasang kekasih ini? Inilah yang bisa disambung dan bisa membuat orang penasaran ingin menonton.

Dua, bagusnya di mana, akan saya ceritakan nanti. Tapi, sejujurnya AADC2 ini ada agak kesan maksanya juga. Tidak bermaksud spoiler, jadi di AADC2 kan diceritakan ternyata mereka LDR, sampai akhirnya di tahun 2006 mereka putus, lalu dibuatlah kelanjutan cerita hubungan mereka 9 tahun dari setelah putus itu. Well, ini sih jatuhnya menurut saya lebih seperti satu film yang berdiri sendiri, bukan sekuel. Ibaratnya, nggak perlu nonton yang pertama, orang juga bisa mengikuti cerita yang ke-2 ini. Atau, kalau film ini diberi judul sendiri, perannnya bukan Rangga dan Cinta lagi, juga bisa. Karena kalau sekuel, hanya sampai di awal-awal film, sudah ketemu jawabannya; oh, jadi selama ini mereka LDR. Titik. Tapi, tiba-tiba mereka putus, hanya karena Rangga merasa rendah diri lalu ditegur ayah Cinta, lalu mereka gagal move on 9 tahun, kemudian terjadilah sekuelnya. Agak maksa nggak sih? :)) Jadi entah bagaimana pokoknya dibuat-buat supaya ada ceritanya, biar ada sekuelnya.

Di sisi lain saya juga bisa paham. Jarak AADC1 sampai yang ke-2 ini memang sudah terlalu jauh. 14 tahun. Jadi kalau mau dibuat cerita bahwa selama 14 tahun mereka LDR juga rasanya tidak masuk akal. Apalagi, kalau fully lose contact, terus-terus tiba-tiba Rangga/Cinta muncul setelah 14 tahun dan ada ‘drama’ lagi di antara mereka juga kurang masuk akal. 9 tahun saja sebenarnya sudah agak nggak masuk akal. Karena, kalau memang benar-benar nggak bisa move on dan Rangga betul-betul menginginkan Cinta kembali, mengapa harus menunggu sampai 9 tahun?? Itu pun balik ke Indonesia mencari Cinta karena kebetulan sekalian mencari ibunya, berarti kalau nggak kebetulan mau mencari ibunya, bisa lebih dari 9 tahun gitu menunggu? :)) Duh, rumit ya cinta. Apalagi AADC yang versi LINE di tahun 2014. Karena kebetulan Rangga ada ((( kerjaan ))) di Jakarta, makanya sekalian mencari Cinta. Duh, kalau seperti itu sih lebih bener lagi apa yang dikatakan ke Cinta ke Rangga di AADC2, “apa yang kamu lakukan ke saya itu.. jahat”. Hahaha.

Yang disayangkan lagi, peran Ayla tidak ada di AADC2 karena pemeran aslinya sedang mengenyam pendidikan di luar negeri. Sedangkan di film, dikisahkan Ayla sudah meninggal dunia. Ya ampun, tragis banget. Saya ngerti sih, namanya juga film, mau dibuat lebih dramatis. Tapi, saya sendiri kurang setuju karena jadi terkesan agak maksa juga dan menggeser original idea AADC1 yang harusnya ada 5 orang dalam satu genk. *Tiba-tiba jadi idealis banget*. Hahaha.

Namun bagaimana pun, bukan hanya sekadar karena sudah kadung jadi penggemar film garapan MILES FILM ini, bagi saya sekuelnya pun memang ada sisi bagusnya. Tanpa mengurangi objektifitas, makanya saya ceritakan dulu di atas sisi nggak sreg-nya saya itu di mana. Tapi, kalau sisi bagusnya, jelas kembali ada pada eksekusinya. Untuk kali ini terutama pada penataan artistiknya.

Kalau dari cerita, seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, menurut saya walaupun agak maksa (seakan-akan dibuat ada cerita supaya ada sekuelnya), tapi sebagai cerita yang berdiri sendiri pun tetap bagus sebenarnya. Bagaimana pada akhir cerita, mungkin orang akan mengira Cinta akan menahan Rangga di bandara seperti di AADC1, di iklan LINE, dan iklan-iklan lainnya, tapi ternyata tidak. Ternyata, yang ada Cinta melewati satu momen yang membuatnya tersadar kalau dia memang tidak bisa hidup tanpa Rangga. How sweet.. Hebat deh ini para kru. Oh ya, tapi kenapa yah sekuel ini bukan Rudi Soedjarwo lagi sutradaranya?

Lalu, chemistry antara Rangga dan Cinta? Masih berasa sih, tapi memang tidak sekuat yang pertama. Kenapa ya? Mungkin karena semua orang juga sudah tahu Dian itu sudah berkeluarga. Dan, di belakang panggung, Dian, Nico dan genk cinta itu memang bersahabat juga layaknya segenk beneran. Bahkan Dian sering berkata bahwa Nico adalah idolanya dalam berakting. Jadinya ya sudah, di benak orang, yang ada di film itu hanya sekadar berakting. Beda dengan AADC1 di mana mereka masih pendatang baru. Masih remaja juga. Orang tidak begitu tahu juga tentang mereka di saat itu. Orang-orang pun bawaannya bisa yang seperti mencocok-cocokan mereka.

Well, entah betapa romantis dan manisnya film ini, perlu diingat ya, bagaimana pun namanya juga film.. Hahaha. Ya.. Film kan cuma 2 jam, wajar romantis-romantis berakhir manis. Coba kalau 2 tahun, biasanya sih, sudah dramatis, berakhir tragis lagi. :)) No, no, just kidding. Tapi kita harus bisa terima bahwa realita itu memang seringkali tidak seperti di film. Contohnya saja persahabatan genk cinta. Dian saja mengakui bahwa di kehidupan sehari-harinya nggak sampai segitunya dengan sahabatnya. Dan itu wajar banget kok.. Apalagi genk perempuan. Karena, yang ada di dunia nyata, di dalam satu genk perempuan saja bisa saling berpolitik! Hidup sudah keras, ternyata hidup perempuan lebih keras lagi kan? Hahaha. Kapan-kapan ya kita diskusiin ini. Makanya jangan pernah ngarep apa yang ada di realita itu selalu semulus dan seindah yang di film.

Tentu tidak salah berharap hidup kita bisa bahagia dan sukses sesuai yang kita impikan layaknya happy-ending movie. Tapi kalau di kehidupan nyata, semua ada proses dan aturannya.

 

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: