Cara Mengetahui Profesi yang Cocok untuk Anda

Teman-teman, siapa yang di sini ingin menjadi pebisnis? Jika kamu salah satunya, apa yang menjadi motivasimu? Ada beberapa orang yang ingin berdagang karena bagi mereka, kerja sama orang (being employee) itu tidak akan bikin kaya sampai kapan pun. Well, di sini saya ingin bertanya balik, kalau semua orang ingin jadi pemilik usaha, maka yang jadi karyawan siapa?

Di sinilah saya berharap supaya semakin banyak orang memahami bahwa kerja sama orang tidak lebih buruk dibandingkan menjadi pedagang. Di dunia ini, memang ada yang bakatnya kerja dengan orang, ada juga yang berdagang. Dan, entah apakah kamu karyawan atau pun bos, semua profesi pasti ada tantangan dan kesulitannya tersendiri.

esbi-big

Pada artikel seri “Siapakah Saya?” beberapa waktu lalu, saya ada menuliskan bahwa di hidup ini ada orang-orang yang masuk sebagai kaum entrepreneur, pedangang, seniman, akademisi, superstrar, cinderella (ibu rumah tangga), dan lain-lain.
Nah, misalnya, kamu punya teman yang seorang kaum seniman, dan seni yang paling ia kuasai adalah seni melukis. Bukan berarti seumur hidupnya ia pasti bekerja sebagai pelukis loh. Mengetahui bahwa melukis ternyata tidak dapat membuat masa depannya mapan*, maka saat terjun di marketplace, dengan bakatnya yang lain (misalkan mengajar), bisa saja ia menjadi employee atau freelance-an dengan berprofesi sebagai guru. *Menurut KBBI, mapan/ma·pan/ = mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya) // (jadi bukan kaya raya). Namun, ia tetap disebut kaum seniman (atau kaum apa pun itu), bedasarkan karakter dan bakat paling menonjol yang dimilikinya. Jadi walaupun saat terjun di marketplace ia bekerja sebagai guru, di sisi lain, biasanya ia tetap menjalani/mengembangkan bakat seninya dan karakter senimannya tak bisa disangkal. Suatu hari, sangat mungkin jiwa seninya itu menghasilkan sebuah mahakarya.

Belum selesai sampai di sini. Kerja dengan orang pun (employee) ada beberapa tipe. Ada tipe (saya menyebutnya sebagai) staf, ada juga tipe executive. Seperti apakah tipe executive itu? Saya dikelilingi lumayan banyak tipe pekerja satu ini. Mereka adalah teman-teman saya yang memiliki kedudukan/posisi/dipandang/merasa nyaman bekerja di perusahaan-perusahaan besar (corporate). Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan besar akan mengambil pendidikan hingga S2.

Pertanyaan lain pun muncul, jadi kalau kaum yang lain (entrepreneur, pedangang, dsb) tidak perlu atau tidak akan dong mengambil pendidikan S2? Jawabannya adalah optional. Bisa saja kamu seorang kaum entrepreneur, tapi di sisi lain ingin juga jadi dosen, ya kemungkinan kamu harus mengambil S2 sebagai syaratnya. Atau, kalau ada rejeki lebih dan kamu merasa ingin menambah ilmu dari jurusan kuliah S2 yang diambil, ya silahkan saja. Tapi jika targetmu adalah menjadi tipe executive, maka mengambil pendidikan S2 itu sangat dianjurkan dan sudah seperti bagian dari panggilan hidupmu juga.

Setelah ini, apa lagi tipe pekerja berikutnya? Ada juga yaitu tipe self-employee, yaitu mereka yang kekerja untuk diri sendiri, misalkan penyanyi, actor, trainer (motivator tok), freelancer, dan lain-lain.

Nah, dari semua tipe ini, apakah seorang pebisnis sudah pasti lebih mapan dibandingkan tipe employee atau self-employee? Saya akan beri contoh seperti ini saja. Misalkan ada seorang pedagang yang berbisnis pembudidayaan sirip ikan yang diolah menjadi aksesori. Dalam sebulan pendapatan bersihnya 10 juta. Di sisi lain, ada seorang penyanyi terkenal yang sekali manggung 10 juta dan dalam sebulan minimal ia 4 kali manggung. Dari perbandingan sederhana ini sudah menunjukkan bahwa tidak selalu berbisnis pasti berpenghasilan lebih dibandingkan kerja sama orang atau kerja untuk diri sendiri.

Contoh lain lagi, ada yang berbisnis advertising agency. Pendapatan bersihnya sebulan 15 juta. Di lain cerita, ada seseorang karyawan bekerja jadi manager di multinational company, gaji bersihnya 15 juta per bulan juga. Dari sini sekali lagi mari renungkan, apakah jadi karyawan pasti lebih susah dibandingkan jadi pedangang? Tidak juga kan?

Yang penting kita harus mendengar suara hati kita, tahu minat (passion), bakat (potency), dan tujuan (purpose) kita, untuk membantu kita menentukan profesi dan tipe pekerja seperti apakah kita.

Namun, jika kamu memang bercita-cita ingin menjadi orang yang kaya raya, maka saya akan memberi saran yang sama persis seperti kata gubernur Jakarta, Ahok, “ya jadi pengusaha!”. Yup, karena profesi lainnya, terutama pekerjaan yang berhubungan dengan public services seperti pejabat pemerintahan, pemuka agama, dokter, guru, polisi, dan tentara, IDEALNYA tidak dapat membuat kamu kaya raya. Cukup hanya mapan dan sejahtera.

 

Nah, setelah membaca artikel seri “Siapakah Saya?” dan artikel ini, mari kita semua (termasuk saya pastinya) bertanya kembali, apakah kita sudah semakin mengenali diri kita sendiri?

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: