EQ vs IQ (part 1)

eq

Jika ditanya apa perbedaan kecerdasan intelejensia (IQ) dengan kecerdasan emosi (EQ), salah satu perbedaan yang paling sederhana adalah IQ itu perkara tentang TAHU, sedangkan EQ itu perkara tentang MAU.

Contoh-contohnya seperti ini; orang yang ingin melangsingkan badan, ia tahu kok kalau ngemil terus maka dietnya akan gagal. Tapi, mau ngemil lagi atau tidak, itu cerita lain. Orang yang ingin dapat penghasilan tahu kok kalau bekerja adalah jawaban untuk keinginannya tersebut. Tapi mau kerja atau tidak, itu cerita lain. Orang yang dekat dengan pasangan orang lain tahu kok kalau itu perbuatan tidak benar, dan menjauh dari orang yang sedang dekat dengannya itu adalah solusinya. Tapi mau atau tidak, itu cerita lain.

Perlu kamu ketahui bahwa emosional tidak sama artinya dengan pemarah/mudah marah. Pada dasarnya manusia itu memang mahluk emosional. Simple, karena manusia memiliki emosi. Saat orang tidak dapat menguasai emosi atau perasaannya, maka ia yang akan dikuasai emosi atau perasaannya.

Mari ilustrasikan dengan contoh di atas. Ketika seseorang dikuasai perasaannya, maka saat ia merasa ingin terus ngemil padahal sedang diet, ia akan bertindak bedasarkan persaannya tersebut, ngemil lagi dan lagi. Saat ia seharusnya bekerja, tapi karena tak mampu menguasai rasa malasnya, maka ia tetap tak bergerak dari tempat duduk/tidur karena dorongan perasaan malasnya lebih kuat daripada motivasinya untuk bekerja. Dan seterusnya.

Ya, setiap perilaku kita sebenarnya digerakkan oleh perasaan kita. Saat kita merasa lapar, kita mengambil keputusan untuk mencari makan. Saat merasa senang, seringkali orang yang tidak ramah pun menjadi begitu ramah terhadap siapa saja. Saat kita merasa puas/bahagia setiap kali berbelanja, kita pun berbelanja. Saat merasa tersinggung, biasanya respon orang adalah marah atau ingin membalas. Dan seterusnya.

Menjadi “masalah” ketika keputusan yang kita ambil “salah” disebabkan oleh ketidakmampuan menguasai emosi negatif. Contohnya saja kemalasan, sebagai salah satu emosi negatif. Jika kita terus bermalas-malasan, pastinya akan merugikan orang lain. Orang yang pemalas biasanya akan mengganggu pekerjaan orang lain karena bagian yang harusnya ia kerjakan, malah dikerjakan orang lain. Bahkan bisa jatuh dalam masalah-masalah lain, misalkan hutang. Nah, tahukah kamu? Pada akhirnya, yang paling dirugikan sebenarnya adalah diri sendiri, karena tentu tidak selamanya orang lain mau dirugikan terus akibat ulah kita. Saat orang lain sudah pada titik tidak mau lagi berurusan dengan kita, di situlah kita akan sadar kitalah pihak yang paling dirugikan atas gagalnya penguasaan emosi itu. Kita akan kehilangan banyak hal termasuk orang-orang di sekitar kita. Semua tergantung emosi negatif apa, seberapa banyak dan sering kita beraksi karenanya.

Jadi, sekarang tahu kan bahwa emosi itu bukan hanya tentang marah. Marah adalah salah satu bentuk dari banyak emosi. Dan apakah marah itu 100% emosi negatif? Kapan-kapan kita diskusi ya.

Emosi-emosi negatif lainnya sendiri selain kemalasan, adalah self-pity, self-centered, kekecewaan, perasaan bersalah, terluka, kesepian, minder/malu, khawatir, iri, serakah (selalu tidak puas), arogan, dan lain-lain. Ada banyak sebab timbulnya emosi negatif. Namun secara umum, emosi negatif biasanya dikaitkan dengan adanya ketidakpuasan akan diri sendiri atau kondisi hidup yang pernah atau sedang dilewati.

Semakin banyak emosi negatif yang tidak dikelola dengan benar (we avoid to deal with it), jelas akan berpengaruh terhadap perilaku kita dan mengganggu hubungan kita dengan orang lain. Selain itu, hal ini juga akan jadi seperti lingkaran setan. Maksudnya begini, misalnya emosi negatif dirimu adalah iri hati. Hal itu adalah cerminan adanya kekurangpuasan atas dirimu sendiri atau kondisi(hidup)mu saat ini, terutama saat kamu mulai membandingkan diri dengan orang lain yang kamu lihat lebih daripada kamu.

Saat itu memberi dampak negatif bagi hubunganmu dengan orang tersebut, misalnya, kamu menjadi menjauh dari orang-orang itu atau kamu berusaha menjatuhkan mereka yang kamu irihatikan, maka emosi negatifmu itu sebenarnya menjadi semakin nyata/terbukti/terkonfirmasi. Berarti, memang ada sesuatu yang begitu jauh/kurang dari dirimu dibandingkan orang-orang itu sehingga kamu merasa mudah iri hati dengan mereka. Akhirnya, semakin tidak puaslah kamu dengan dirimu sendiri. Dan begitu seterusnya.

Contoh lain lagi. Misalnya, emosi negatifmu adalah kemarahan/kekecewaan. Lalu, seringkali kamu melampiaskan amarahmu itu kepada orang lain, maka biasanya timbul emosi negatif berikutnya seperti merasa bersalah. Dampaknya, kamu makin tidak puas atau tidak bahagia dengan dirimu sendiri. Dan begitu seterusnya.

eq

Nah, sekarang pertanyaannya, apakah menguasai emosi itu sama artinya dengan menahan emosi?

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: