Monthly Archives: May 2017

Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-2)

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang ke-2:

#2. Pengalaman
Terdengar klise, tapi ya memang kenyataannya begitu. Pengalaman itu penting karena seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman membuat Anda sudah tahu apa yang harus dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan saat Anda bekerja, yang dapat membantu memajukan sebuah perusahaan. Jelas hal itu dianggap lebih efektif, efisien, dan beneficial oleh perusahaan. Maka itu, ketika Anda menulis CV, pastikan pengalaman Anda ditulis paling atas, paling tidak setelah biodata.

Pada poin ini, Anda mungkin akan bertanya bagaimana bisa pengalaman mempengaruhi karier jika Anda misalkan adalah seorang fresh graduate yang belum pernah bekerja? Fresh graduate yang belum berpengalaman juga tetap diminati kok oleh perusahaan untuk tujuan efisiensi anggaran perusahaan. Tapi, karena bagaimana pun juga pengalaman itu penting, walaupun Anda fresh graduate, kalau bisa, jangan benar-benar “putih polos” tidak pernah mengerjakan apa pun selain bersekolah atau berkuliah sebelum terjun ke dunia kerja. Mengapa begitu? Karena pemberi kerja biasanya merasa kurang efisien jika meng-hire orang yang betul-betul belum ada pengalaman sama sekali. Mereka jadi perlu waktu untuk mengajari kita banyak hal dari awal, termasuk mungkin work flow dan etos kerja.
Continue reading

Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-1)

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang pertama:

Hasil gambar untuk if you love what you do you'll never work a day in your life

#1. Passion
Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menyemangati dibandingkan dapat mengerjakan sesuatu yang begitu kita minati, apalagi ternyata dapat menghasilkan sesuatu dari sana, entah itu uang atau pun prestasi lainnya. Kita bekerja serasa “tidak” bekerja, melainkan seperti sedang melakukan minat terdalam kita setiap harinya. Beban pekerjaan mungkin ada tapi tidak terlalu berat.

Namun, pernah suatu hari, kenalan saya di social media, @Jetveetlev berkata, somehow teori ini pada akhirnya akan jadi teori saja, karena apa pun yang menjadi RUTINITAS pasti akan MEMBOSANKAN. Betul kok. Maka itu, ketika jenuh menyerang, someone told me that we should take a break, then after that, we will be excited again karena bagaimana pun itu passion kita. Passion merupakan sinyal yang menunjukkan jati diri. Ia merupakan panggilan dari nurani (conscience) kita. Dan nurani itu tidak dapat diingkari. Continue reading

Bumi Bulat VS Bumi Datar

Dulu pernah ngobrol sama temen soal evolusi. Kami berdiskusi mungkin manusia purba (yang punya anatomi seperti kera seperti yang dijelaskan Charles Darwin) terus berevolusi sampai akhirnya ada 1 hasil evolusi yang paling sempurna, mungkin manusia itulah yg disebut “manusia pertama” di bumi. Dan mendapat julukan ciptaan paling sempurna di antara ciptaan lainnya. Mungkin ya.. Ini hanya cerita-cerita saja.

Siapa pun yang bercerita, kalau cerita tentang hal-hal seperti ini, saya rasa sepertinya tidak terlalu banyak orang di negara kita ini yang berminat untuk ikutan. Bagaimana bisa berminat dengan topik-topik seperti evolusi dan lain-lain yang sebanding? Kalau di abad 21 seperti ini masih ada yang percaya bahwa bumi itu datar dan perempuan bisa hamil akibat sperma yang masuk dari pori-pori kulit.

Memang sih, however, history repeats itself. Perdebatan bentuk bumi pernah terjadi di abad ke-15 di negara bagian barat. CMIIW. Dan entah sebelum abad 15 apakah pernah terjadi perdebatan yang sama juga. Ya oke lah, negara kita kan negara berkembang. Baru 70 tahunan merdeka. Tapi entahlah, ya inginnya sih ngga di tahun 2017 juga kali masih ribut soal bentuk bumi.. Hahaha. Di kala smartphone dan berbagai produk digital sudah muncul, lalu masih ada yang meributkan bentuk bumi, itu rasanya… ah sudahlah. Lalu, kalau begini ceritanya, apa kita perlu menunggu hingga 600 tahun kemudian untuk melihat bangsa ini maju? Semoga tidak selama itu tentunya!
Continue reading

Taksi Konvensional VS Taksi Online

Taksi
Kembali marak terjadi. Demo para sopir angkutan umum terhadap taksi/ojek online, namun kali ini terjadi di kota-kota luar Jakarta. Karena peristiwa ini, saya jadi teringat tahun lalu saat demo taksi konvensional di Jakarta menjadi rusuh dan anarkis, seperti biasa, netizen pun mulai banyak yang berkomentar di social media menanggapi peristiwa tersebut.

Selain membahas fenomena angkutan online, saya sebenarnya lebih ingin bercerita tentang sesuatu yang disebut; berpikir secara holistik (bepikir secara menyeluruh/luas). Jadi, saat kita “melihat” suatu peristiwa, kita melihatnya dari banyak sisi. Saya percaya bahwa saat kita dapat berpikir secara holistik, entah seberapa besar pengaruhnya, itu akan membantu kita agar lebih bisa menguasai emosi/perasaan kita, membantu mengasah rasa empati kita, dan membuat kita jadi lebih pengertian tentunya. Analoginya, hanya karena ada sedikit “koreng” di kulit jeruk, bukan berarti jeruk tersebut busuk bukan?
Continue reading