Taksi Konvensional VS Taksi Online

Taksi
Kembali marak terjadi. Demo para sopir angkutan umum terhadap taksi/ojek online, namun kali ini terjadi di kota-kota luar Jakarta. Karena peristiwa ini, saya jadi teringat tahun lalu saat demo taksi konvensional di Jakarta menjadi rusuh dan anarkis, seperti biasa, netizen pun mulai banyak yang berkomentar di social media menanggapi peristiwa tersebut.

Selain membahas fenomena angkutan online, saya sebenarnya lebih ingin bercerita tentang sesuatu yang disebut; berpikir secara holistik (bepikir secara menyeluruh/luas). Jadi, saat kita “melihat” suatu peristiwa, kita melihatnya dari banyak sisi. Saya percaya bahwa saat kita dapat berpikir secara holistik, entah seberapa besar pengaruhnya, itu akan membantu kita agar lebih bisa menguasai emosi/perasaan kita, membantu mengasah rasa empati kita, dan membuat kita jadi lebih pengertian tentunya. Analoginya, hanya karena ada beberapa “koreng” di kulit jeruk, bukan berarti jeruk tersebut busuk bukan?

Jadi ceritanya, di antara banyak komentar saat itu, saya mendapati memang cukup banyak juga yang tiba-tiba seperti “curhat” atas kekecewaannya saat dahulu menggunakan taksi konvensional. Salah satunya ada seseorang yang bercerita di wall Facebook-nya bahwa dia pernah kecewa dengan taksi konvensional karena sang sopir menolak mengantar dirinya lantaran jalanan macet. Postingan tersebut seingat saya cukup viral dan dibanjiri komentar dari netizen lainnya yang bernada seperti mendukung cerita tersebut karena mungkin pernah mengalami hal yang serupa.

Membaca itu, saya pun setuju, karena saya juga pernah mengalaminya, ditolak sopir taksi konvensional karena jalanan saat itu macet sekali. Tapi, yang kurang saya setujui adalah jika kita meluapkan kekesalan atau kekecewaan tersebut secara “berlebihan”. “Berlebihan” yang saya maksud di sini adalah “terlalu” memojokkan taksi konvensional seolah-olah kualitas mereka itu literally buruk.

Saya pernah menggunakan semua jenis angkutan umum di Jakarta, kecuali kereta dalam kota, karena kebetulan belum ada kebutuhan untuk menggunakannya. Ya, saya pengguna taksi konvensional maupun taksi online. Jadi di sini saya tidak ada niatan untuk membela jenis taksi yang mana. Saya memang pernah ditolak sopir taksi konvensional, tapi apakah saya pernah ditolak sopir taksi online? Pernah. Dan bukan sekali saja kalau tidak salah ingat. Mengalami kejadian yang sama seperti ini, maka saya rasa komplain “berlebihan” terhadap taksi konvensional menjadi tidak fair. Ya tidak menurut Anda? Ibaratnya dua-duanya pernah menolak kita, mengapa hanya satu yang dikomplain banget? Apakah karena cara menolak sopir taksi online terbilang lebih “halus”? Karena mereka cukup menekan “cancel” dari kejahuan tanpa harus menyampaikan alasan “saya tidak mau jemput karena macet ke lokasi bapak/ibu” langsung di hadapan penumpang. Jadi terasa lebih “sopan”?

Sekali lagi, saya tidak sedang membandingkan atau menyamakan kedua jenis taksi ini, karena pertanyaan selanjutnya adalah apakah saya pernah mendapatkan layanan yang begitu baik dari kedua jenis taksi ini? Jawabannya, tentu pernah. Saya pernah naik taksi konvensional dari lobby parkir lantai 4 atau 5 gitu, lalu turun melewati turunan parkiran lantai-lantai di bawahnya yang keadaan parkirannya sudah kosong dan gelap, namun aman-aman saja tuh. Tapi apakah Anda pernah mendengar kasus kriminal terjadi di taksi konvensional? Pasti pernah. Begitu pun juga pada taksi online. Saya pernah dapat driver yang begitu ramah, tapi sesekali ya pernah mendapat layanan yang kurang memuaskan. Bahkan pernah sekali, ada yang merepotkan saya waktu itu.

Perkara ini sama seperti salah satu poin yang saya tulis di artikel tentang LGBT. Adakah kaum LGBT yang jahat? Ya pasti ada, sama seperti kaum heteroseksual, ada yang baik, ada yang jahat. Adakah orang pada ras A atau beragama A yang pelit? Ya pasti ada, sama seperti orang pada ras B atau beragama B, ada yang tidak pelit, ada yang pelit. Se-simple itu. Oleh karena itu, ketika kita memojokkan, mem-bully, tidak suka, atau bahkan membenci sesuatu secara berlebihan hanya karena 1 atau 2 kejadian, saya rasa itu tidak fair.

Memang tidak dapat dipungkiri di dunia ini ada pepatah “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Anda pasti pernah dengar kan, istilah “1 kesalahan seseorang terkadang bisa menutupi 9 kebaikan yang sudah diperbuatnya”? Kurang lebih seperti itu lah. Saya sudah menyadari hal itu sedari kecil. Tapi bagaimana pun, tidak ada orang yang sempurna kan? Berharap orang lain untuk selalu berlaku fair terhadap kita, itu tentu tidak mungkin. Tetapi, walaupun sulit, mengapa tidak kita coba mempraktikkannya semampu kita? Kita kan pasti tahu rasanya saat diperlakukan tidak fair, saat 1 kesalahan kita begitu diingat, sedangkan 9 kebaikan yang sudah kita perbuat mungkin sudah terlupakan. Betul, kita tidak perlu mengingat kebaikan kita sendiri. Karena itu, bagaimana jika dipakai untuk mengingat 9 kebaikan seseorang saat mereka melakukan 1 kesalahan terhadap kita? Sehingga dapat membantu kita lebih mudah untuk memaafkan kesalahannya itu. Mudah tidak melakukannya? Kalau baru 1 kesalahan mungkin masih mudah. Mungkin. Kalau sudah lebih dari 1, ya memang tidak selalu mudah kok. Belum lagi, ada saatnya memang kita harus showing mercy, tapi tidak dapat dipungkiri ada saatnya juga kita harus bertindak tegas. Hal-hal seperti ini memang harus dipilah dan dilakukan dengan bijaksana, dan ya, terkadang tidak mudah.

Kembali lagi bicara tentang taksi online. Bukan saja sebagai pengguna segala macam angkutan umum yang ada di Jakarta, segala, segala, segala macam orang pun sudah pernah saya temui, termasuk mendengarkan, sekadar ngobrol, hingga bertukar pikiran dengan mereka. Segala macam orang di sini jelas termasuk dengan sejumlah driver taksi konvensional dan online. Ada sopir taksi konvensional yang bercerita bahwa ia baru saja di-PHK, sehingga ia memutuskan jadi sopir taksi sembari menunggu pesangonnya cair yang rencananya akan digunakan untuk membeli mobil agar ia bisa beralih menjadi sopir taksi online. Ada juga sopir taksi online yang bercerita kakaknya adalah pengusaha kain. Dulunya sang kakak melewati keadaan begitu sulit sampai akhirnya sukses menjadi pengusaha. Ia berkata bahwa yang ‘berjuang-berjuang gitu biasanya jadi orang sukses’. Lalu saya bilang padanya, “orangnya (sang kakak) pasti rajin banget”, sang driver menjawab “sama gampang prihatinan sama orang lain”. Saya tersenyum memahami maksudnya.

Nah, pernah ada juga nih, sopir taksi online tiba-tiba (kurang lebih) berkata seperti ini, “saya bisa paham sih kalau sopir taksi tuh pada marah, karena kalau saya jadi mereka mungkin juga bakal sama. Tiba-tiba ngga ada pemasukan. Wah gimana?” Tanggapan saya waktu itu adalah ya betul, mereka sangat panik. Karena sebegitu paniknya, sehingga reaksi yang timbul adalah kemarahan. Terlepas dari berita bahwa ada banyak oknum di dalamnya, kalau pun memang para driver asli marah, ya itu tadi, karena mereka begitu panik dan bingung. Dan, somehow mereka tidak tahu lagi harus melakukan apa selain meluapkan kemarahan dan kekecewaan mereka dengan harapan agar diperhatikan.

Jelas saya bukannya membenarkan aksi anarkis para pendemo (sopir asli) tersebut. Tapi seperti yang saya ceritakan di artikel saya sebelumnya ini, terkadang kita perlu memahami juga bahwa selalu ada latar belakang mengapa seseorang berperilaku seperti ini dan itu. Saya pastinya juga pernah berbincang-bincang dengan mereka yang berstatus sosial ekonomi ke bawah. Tahukah Anda? Yang saya tangkap, rata-rata pola pikir mereka kurang lebih seperti ini “yang penting tiap hari saya (dan keluarga) bisa makan, plus ada tempat tinggal, ya sudah”. Mereka tidak terlalu memikirkan harus punya rumah senyaman apa dan makan makanan seenak/sesehat apa. Bukan mereka tidak mau, tetapi yang penting mereka bisa menyambung hidup dulu. Maka itu, kalau hal ini dihubungkan dengan kampanye PILKADA DKI Jakarta kemarin ini, kampanye dengan menawarkan dan menjelaskan sejuta macam program yang canggih itu pada akhirnya hanya “laku” didengarkan oleh masyarakat kelas menengah dan mungkin sebagian lagi masyarakat menengah ke atas. Bagi masyarakat menengah ke bawah, itu tidak begitu “laku”, why? because they don’t even care or understand. Jika mereka sudah merasa “aman” dan “nyaman” dengan kondisi mereka sekarang (misalnya tinggal di gang-gang terpencil dll), ya sudah, mereka tidak mau keluar dari zona “aman” dan “nyaman” tersebut. Salah satu reaksinya ya bisa jadi marah saat harus keluar dari zona tersebut.

Sebagai penutup, mari bicara soal taksi online lagi. Akhirnya sekarang ada solusi di mana taksi-taksi konvensional bergabung dengan taksi online dalam penggunaan aplikasi. Yang baguslah. Kalau istilah teman saya, ini yang namanya; collaboration over competion. Jadi, daripada taksi kovensional VS taksi online, jauh lebih baik #taksikonvensionalXtaksionline, bukan? 😉

 

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: