Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-1)

Hasil gambar untuk if you love what you do you'll never work a day in your life

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang pertama:

#1. Passion
Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menyemangati dibandingkan dapat mengerjakan sesuatu yang begitu kita minati, apalagi ternyata dapat menghasilkan sesuatu dari sana, entah itu uang atau pun prestasi lainnya. Kita bekerja serasa “tidak” bekerja, melainkan seperti sedang melakukan minat terdalam kita setiap harinya. Beban pekerjaan mungkin ada tapi tidak terlalu berat.

Namun, pernah suatu hari, kenalan saya di social media, @Jetveetlev berkata, somehow teori ini pada akhirnya akan jadi teori saja, karena apa pun yang menjadi RUTINITAS pasti akan MEMBOSANKAN. Betul kok. Maka itu, ketika jenuh menyerang, someone told me that we should take a break, then after that, we will be excited again karena bagaimana pun itu passion kita. Passion merupakan sinyal yang menunjukkan jati diri. Ia merupakan panggilan dari nurani (conscience) kita. Dan nurani itu tidak dapat diingkari.

Pertanyaannya, bagaimana jika kita tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sesuai dengan passion kita? Jawabannya, carilah pekerjaan yang mendekati passion Anda. Contoh, jika Anda cinta dunia fashion dan bercita-cita ingin punya butik sendiri atau lini sendiri, tapi Anda menyadari bahwa kesempatan untuk menggapai impian tersebut dalam waktu dekat ini masih sangat minim. Maka, coba gali minat dan bakat Anda yang lain. Misalnya, Anda menemukan ternyata Anda juga suka menulis, maka Anda bisa mulai dengan menjadi fashion editor di majalah atau mungkin fashion blogger. Atau, jika tidak suka menulis, bisa juga jadi fashion stylist dahulu, entah bergerak sendiri atau bekerja di media/ikut orang. Kalau saran saya sih, sebaiknya ikut orang/perusahaan dulu di awal-awal. Ini hanya contoh. Intinya, gali terus dan coba kembangkan dahulu dengan cara lain namun tetap berhubungan dengan passion Anda dan berujung pada impian Anda.

Dari sana, biasanya justru bisa jadi batu loncatan bagi kita untuk menuju passion dan impian kita yang sesungguhnya. Karena saat Anda menjadi fashion stylist atau editor terlebih dahulu, Anda bisa belajar lebih banyak mengenai industri fashion, mendapatkan banyak pengalaman, menemukan ide-ide baru, dan sangat memungkinkan untuk memperluas jaringan Anda terlebih dahulu. Begitu pun dengan pekerjaan lainnya.

Saya sendiri adalah orang yang tidak pernah berminat ingin bekerja di perusahaan-perusahaan besar, apalagi setelah saya menjalani hampir 7 tahun dari sejak lulus kuliah saat karier sesungguhnya dimulai dan akhirnya bekerja di beberapa tempat. Jelas sekali saya lebih memilih bekerja di perusahaan-perusahaan berusia “balita”, apalagi jika bisa langsung bekerja sama dengan owner-nya. Tentu ada lebih kurangnya bekerja di perusahaan yang biasa kita sebut sebagai start up atau mungkin masuk dalam kategori UKM. Tetapi ya itu balik lagi ke preferensi masing-masing. Senangnya adalah beberapa kali saya bisa bekerja sama dengan business owner yang memang sudah berpengalaman. Jadi sebelum-sebelumnya, mereka sudah pernah membangun bisnis-bisnis lain, entah ada yang gagal maupun berhasil. Dari situ, saya bisa belajar banyak tentang berbisnis. Belum lagi, karena perusahaan masih kecil, sehingga saya sering mendapatkan kesempatan mengerjakan banyak hal. Dari situ, kemampuan saya banyak yang terasah dan saya juga jadi makin tahu passion saya sebenarnya di mana.

At last but not least, pernahkah Anda mendengar quotes kurang lebih seperti ini; if you can’t have what you love, then learn to love what you already had. Quotes ini benar tapi memang saya akui sulit, JIKA saya pribadi harus mengerjakan sesuatu yang benar-benar tidak saya minati. Contohnya saja, dahulu saat baru lulus kuliah, saya pernah diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi. Itu bukan saja tidak minat, bahkan setelah diajari pun cara kerjanya, saya sulit memahaminya! xD. Namun, di satu sisi, keadaan saya selalu mendesak di mana saya harus mendapatkan penghasilan secapatnya saat itu atau harus selalu mendapatkan penghasilan setiap bulannya saat ini karena saya tulang punggung keluarga. Nah, walaupun keadaannya kepepet begitu, saya tetap tidak bisa mengiyakan pekerjaan tersebut. Bukan karena saya tidak bersyukur, tetapi karena saya tahu pasti bahwa saya tidak sanggup menjalaninya. Maka itu, dulu beberapa kali saya sering dalam kondisi stres sekali. Kalau pun saya terima, pada akhirnya akan sama stresnya juga, karena pernah saya coba. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda. Kalau saya pribadi, saya memilih tidak menyerah untuk terus mencari pekerjaan yang sesuai atau minimal mendekati passion saya, sehingga teori “love what you already had” itu masih bisa teraplikasikan.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: