Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-2)

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang ke-2:

#2. Pengalaman
Terdengar klise, tapi ya memang kenyataannya begitu. Pengalaman itu penting karena seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman membuat Anda sudah tahu apa yang harus dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan saat Anda bekerja, yang dapat membantu memajukan sebuah perusahaan. Jelas hal itu dianggap lebih efektif, efisien, dan beneficial oleh perusahaan. Maka itu, ketika Anda menulis CV, pastikan pengalaman Anda ditulis paling atas, paling tidak setelah biodata.

Pada poin ini, Anda mungkin akan bertanya bagaimana bisa pengalaman mempengaruhi karier jika Anda misalkan adalah seorang fresh graduate yang belum pernah bekerja? Fresh graduate yang belum berpengalaman juga tetap diminati kok oleh perusahaan untuk tujuan efisiensi anggaran perusahaan. Tapi, karena bagaimana pun juga pengalaman itu penting, walaupun Anda fresh graduate, kalau bisa, jangan benar-benar “putih polos” tidak pernah mengerjakan apa pun selain bersekolah atau berkuliah sebelum terjun ke dunia kerja. Mengapa begitu? Karena pemberi kerja biasanya merasa kurang efisien jika meng-hire orang yang betul-betul belum ada pengalaman sama sekali. Mereka jadi perlu waktu untuk mengajari kita banyak hal dari awal, termasuk mungkin work flow dan etos kerja.

Maka itu tidak aneh jika saya pernah mendengar pernyataan seperti ini; tidak ada pengalaman, susah cari kerja. Tidak dapat kerja, tidak dapat pengalaman. Layaknya lingkaran setan. Lalu, bagaimana cara agar kita supaya mendapatkan pengalaman? Ya, dengan MENCOBA. Coba dari hal-hal yang kecil dulu tentunya. Waktu SMA, sekitar tahun 2003-an, saya pernah membagikan ribuan flyer di mall dengan berdiri dekat eskalator. Bayarannya saat itu Rp50.000 sampai flyer-nya habis per hari. Saat kuliah, saya pernah bekerja berkeliling memasukkan brosur-brosur ke rumah-rumah di beberapa area komplek perumahan dekat tempat tinggal saya. Pernah juga part time bekerja di restoran dan menjadi guru les privat anak SD. Bahkan, saya pernah ikut-ikutan join dan menjalankan MLM juga.

Sampai di sini Anda mungkin bertanya, apa prestige-nya menuliskan di CV, pekerjaan-pekerjaan seperti yang saya kerjakan di atas? Memangnya bisa jadi portfolio juga? Kenyatannya, sampai sekarang saya masih menuliskan kok bahwa saya pernah bekerja part time di restoran dan mejadi guru privat murid SD di CV, bahkan akun LinkedIn saya. Lalu bagaimana dengan yang bagi-bagi brosur atau MLM itu tadi? Silahkan tulis di CV JIKA Anda adalah fresh graduate/anak kuliah yang ingin cari part time-an. Tidak ada yang aneh kok. Justru itu menunjukkan Anda adalah pribadi yang produktif dan rajin, karena sembari sekolah/kuliah, Anda masih bisa menyempatkan diri untuk bekerja. Kita sepatutnya memandang bahwa pengalaman kerja bukan hanya sekadar agar CV terlihat penuh dan keren. Terlebih dari itu, yaitu juga tentang apa yang kita pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Tahukah Anda? Saya masih ingat job bagi-bagi brosur itu saya dapat dari teman. Teman saya tidak hanya menawarkannya kepada saya, tetapi kepada temannya yang lain yang juga ingin mencari penghasilan. Job tersebut dilakukan beberapa hari. Pernah suatu hari, saya kelewatan mendapatkan job tersebut sehari karena temannya yang satu lagi itu terlebih dahulu membaca SMS dan mengonfirmasi bahwa ia menerima job tersebut. Dan itu hanya selang beberapa jam sebelum saya yang baru membaca SMS teman saya itu dan sebenarnya juga ingin menerima job tersebut. Luar biasa, padahal bayarannya juga biasa-biasa saja. Ya secara pekerjaannya hanya seperti itu. Tapi di satu sisi, berasa juga lho lelahnya keliling komplek perumahan yang begitu luas sembari membawa cukup banyak brosur. Apa pelajaran yang saya dapat dari sana? Pelajarannya adalah PENCARI KERJA itu buanyak, dear! Bayangkan, untuk pekerjaan dan bayaran seperti itu saja bisa langsung disamber orang lain, hanya karena tidak sengaja kelewatan infonya padahal baru beberapa jam saja.

Jadi, kalau belum punya pengalaman apa pun, jangan terlalu gengsi atau terlalu pilih-pilih pekerjaan yang Anda ingin kerjakan. Justru pandanglah itu sebagai sarana untuk kita belajar sesuatu yang baru sebanyak mungkin. Pemberi kerja pun mengerti kok jika Anda baru bisa menuliskan pengalaman-pengalaman seperti itu di CV.

Selain itu, Anda juga bisa ikut kegiatan organisasi di kampus atau pun luar kampus, entah itu sekadar menjadi voulenteer atau pun tim intinya. Itu semua juga bisa menjadi pengalaman kerja, andai kata Anda sudah benar-benar tidak mendapatkan pekerjaan paruh waktu yang menghasilkan uang selama kuliah. Atau, ini juga cocok bagi Anda yang lebih memilih untuk tetap concern dengan hal-hal yang masih bersangkutan dengan kegiatan kuliah di dalam kampus Anda.

Jelas akan lebih baik juga untuk memilih kampus yang ada program magangnya. Di saat maganglah, walaupun sebentar, Anda bisa mendapatkan pengalaman kerja. Bahkan tidak menutup kemungkinan, bisa lanjut terus menjadi karyawan tetap di perusahaan tersebut, setelah lulus kuliah. Pokoknya sebisa mungkin lebih baik tidak menjadi fresh graduate yang terlalu bagaikan “kertas putih polos”.

Pengalaman, sebaiknya sedikit atau banyak?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah banyak pengalaman sudah pasti membuat kita lebih hebat dibandingkan yang pengalamannya sedikit? Bagi saya, bukan masalah sedikit atau banyak, tapi apa yang DIPELAJARI dari pengalaman-pengalaman tersebut dan bagaimana kita MENGAMBIL HIKMAH dari pelajaran-pelajaran itu. Analogi ini mirip seperti tentang quantity time and quality time. Apalah artinya waktu yang panjang bersama orang-orang terdekat kita (full quantity) tapi diisi dengan perang panas, perang dingin, atau perang panas dingin? Tidak berkualitas. Namun sebaliknya, bagaimana caranya kita bisa menciptakan quality time JIKA TIDAK ADA sejumlah waktu yang disisihkan dengan orang terdekat kita? Belum lagi, kalau waktu tersebut memang begitu berkualitas, pasti rasanya ingin ditambah bukan?

Sama seperti pengalaman. Kalau tidak ada pengalaman, ya apa yang mau dipelajari? Kalau hanya sedikit, maka kemungkinan memang hanya sedikit yang dipelajari. Tapi banyak pengalaman pun tidak akan membawa kita ke mana-mana JIKA pelajarannya tidak kita ambil. Sama seperti waktu yang cukup dan berkualitas, maka pengalaman yang cukup dan dipelajari dengan baik, itu yang paling baik.

Kelebihan yang paling terasa dari pengalaman kerja yang tidak hanya di satu atau dua tempat saja adalah networking yang bertambah dan beragam. Selain itu, kalau bagi saya pribadi, pernah terjun langsung ke dalam budaya kantor dan sistem perusahaan yang berbeda-beda, membuat saya juga jadi tahu mana sistem yang efektif dan tidak, entah itu dalam dampak apa saja.

Pernah mencoba banyak hal juga dapat membantu kita menemukan apa passion kita yang sesungguhnya. Kita jadi tahu apa yang betul-betul dicintai nurani kita. Bagaimana Anda bisa tahu kalau Anda merasa bagitu damai, bahagia, dan merasa “ini tuh gue banget” saat memasak, menulis, mengajar, mendesain, berjualan, dan lain-lain, jika Anda belum mencoba?

Terakhir, jelas bahwa pengalaman itu terlebih dari soal STATUS/JABATAN pekerjaan kita. Apalah artinya tertulis berbagai jabatan seperti “General Manager”, “Director”, bahkan “Chief Something-Something” tapi realitanya Anda tidak banyak berbuat apa-apa, dibandingkan STATUS/JABATAN yang tertulis mungkin “hanya” “Quality Assurance” tapi pernah handle ini dan itu. Jelas yang ke-2 lebih banyak pelajaran yang bisa diambil. Ada saatnya Anda yang tadinya the-auto-multi-tasking-and-talented QA bisa jadi GM yang sesungguhnya karena Anda sudah begitu cakap dalam karier Anda tersebut, hasil dari pengalaman yang sudah Anda lewati. 🙂

 

 

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: