Menanggapi Fenomena “Child Free Life”

Semakin tahun, semakin banyak orang yang ingin “Child Free Life”, yang artinya tidak ingin memiliki anak (kandung), entah mereka memilih untuk menikah atau tidak.

Sebelum dibahas lebih lanjut, saya ingin bilang bahwa saya bukan bagian dari kelompok #ChildFeeLife, tapi pastinya saya mendukung program-program semacam Keluarga Berencana dan penekanan angka kelahiran untuk sedikit membantu mengatasi overpopulation.

EVERYONE IS SELFISH BUT POINT IS WHO IS LESS inspiregroups.co.in

Artikel ini saya tulis karena saya pernah membaca ada yang bilang kalau orang-orang yang ingin Child Free itu egois.

Kalau menurut saya begini. Kita kan tidak tahu yah alasan masing-masing orang atau pasangan ingin Child Free itu kenapa, karena bisa berbeda-beda. Kalau pun orang yang Anda tahu atau temui, alasannya ingin #ChildFreeLife memang terkesan egois menurut Anda, nahh buat saya, ngga ada yang aneh kok, karena manusia itu memang EGOIS.

Jadi… Sebaliknya, bagi orang yang ingin punya anak pun, alasan mengapa ingin punya anak pun juga alasan yang……??

Yes, EGOIS.

Saya INGIN punya anak supaya SAYA bahagia.
Saya INGIN punya anak supaya di saat saya sudah tua ada yang mengurusi SAYA.
Saya INGIN punya anak karena SAYA merasa bosan hanya berdua saja di rumah terus dengan pasangan.
Saya INGIN punya anak karena SAYA ingin punya cucu.
Saya INGIN punya anak karena SAYA ingin anak saya meneruskan silsilah/marga/perusahaan keluarga SAYA.
Saya INGIN tambah anak karena kalau hanya satu SAYA masih merasa sepi apalagi ketika tua nanti.

Pasti pernah kan mendengar pernyataan-pernyataan di atas?
Salah tidak? Tidak… Karena manusia itu memang EGOIS.

Mahluk hidup pada kingdom animalia, yang artinya termasuk manusia, egois karena itu bagian dari survival instinct (insting untuk bertahan hidup).

Hanya saja, di antara semua alasan di atas, yang paling bikin tertegun menurut saya itu yang karena bosan. Jadi, kalau kita merasa bosan, solusinya adalah melahirkan seorang manusia lagi di bumi untuk menghilangkan kebosanan kita? :/

Related image
Image from Twitter

Tahukah Anda, apa yang lebih egois dan memang bisa dinyatakan bersalah? Yaitu, punya anak, tapi tidak bisa bertanggung jawab secara mental dan/atau finansial terhadap anaknya.

Saya kasih contoh kasus ya. Misalnya, ada pasangan yang menikah tetapi pernikahannya toxic/sangat berantakan/tidak harmonis/penuh energi negatif, jelas itu memberikan pengaruh tidak baik bagi mental dan karakter sang anak, apalagi jika sang anak juga kena getahnya dan jadi korban pelampiasan dari orang tua dalam pernikahan seperti itu. Saya tahu pasti soal ini karena saya telah melewati puluhan tahun berada dalam posisi “sang anak” 🙂

Nah, sampai di sini, mungkin akan ada yang bilang, “orang yang mau Child Free adalah orang yang masa kanak-kanaknya kurang baik.” Kalau pendapat Anda seperti itu, maka saya akan bilang bahwa orang yang mau punya anak pun ada yang masa kanak-kanaknya baik dan kurang baik. Sama saja dengan orang yang ingin Child Free, pasti ada yang masa kanak-kanaknya kurang baik dan tidak juga. Saya bicara seperti ini bukan asal njeplak saja. Saya sudah bertemu/mendengarkan/membaca begitu buanyak cerita orang lain. Toh kalau dihubungkan ke saya, saya kan sudah bilang saya bukan masuk golongan Child Free.

Image result for knowing yourself is the beginning

Sekarang saya akan memberikan dua contoh kasus lainnya.
Pertama, saya pernah baca di Instagram ada seorang pria, warga negara kita juga, Ia ingin Child Free karena ia memilih untuk mengabdikan hidupnya menjadi relawan guru di desa terpencil. “Saya menjadi guru bagi anak-anak kenapa lantas saya tidak ingin memiliki anak-anak? Alasan saya sederhana. Saya tidak sanggup menjadi bapak. Ada cita-cita yang harus saya korbankan ketika menjadi seorang bapak kandung. Ada tanggung jawab moral yang tidak bisa saya ambil alih dengan menjadi orang tua. Daripada anak-anak nantinya menjadi korban keegoisan saya, saya lebih memilih tidak memiliki anak sama sekali,” tuturnya.

Kedua, saya punya seorang teman, Ia laki-laki. Ia juga mempertimbangkan ingin Child Free karena Ia sadar bahwa Ia sangat mengejar karier dan bukan tipikal family man. Ia bilang menurutnya akan jauh lebih egois kalau Ia memutuskan untuk punya anak tapi anaknya terabaikan.

Ya, saya yakin, kalau secara finansial sih teman saya ini bisa diandalkan karena kariernya memang bagus. Tapi kalau sampai karena mengejar karier jadinya tidak punya waktu dan tidak begitu antusias dengan anak sendiri, saya yakin akan ada tanggung jawab mental juga terhadap anaknya nanti.

Seringkali orang lain tidak tahu alasan yang melatarbelakangi seseorang mengambil sebuah keputusan (dalam hal ini ingin Child Free atau pun tidak), tapi bisa saja langsung menasihati ini dan itu, bahkan setelah diceritakan pun, mungkin bisa ada yang menasihati, “Jangan mikir gitu.. Nanti kalau udah punya anak bisa secara alamiah berubah.. Nanti juga seneng kalau sama anak sendiri dan ngga tega..”
.
.
.
.
Yakin….?
Kalau tidak berubah, atau malah tambah giat mengejar karier dengan berbagai dalih lainnya, bagaimana?
Wow, anak yang sudah lahir itu jadi taruhannya dong?
Dan, kalau memang bisa secara alamiah berubah, lantas bukti yang ada malah banyak cerita-cerita tentang orang tua bermasalah?
Nahh.. Maka itu..

Menjadi orang tua itu bukan sekadar mau, tanpa mengenali dan mempersiapkan diri sendiri dulu.

Tidak hanya laki-laki. Saya punya dua rekan perempuan yang masuk kelompok Child Free Life. Dan masih ada lagi yang lainnya, tapi bukan teman atau rekanan saya.

what do 7 billion people do - world population infographic
Gambar ini ditayangkan pada bulan Juli tahun 2013 di blog Adioma.com

Selain itu, kini jumlah manusia di bumi diperkirakan kurang lebih ada 7,5 miliar jiwa (itu pun yang mungkin sudah terdata kali ya..? Haha..). Bumi semakin padat, dan jelas kepadatan penduduk akan ada dampak negatifnya. Misalnya, mau tak mau, bagian dari alam yang harusnya jadi tempatnya pepohonan, jadi tergerus demi membuat pemukiman baru lagi. Dan di antara begitu banyaknya manusia saat ini, ada banyak juga anak-anak yatim piatu, korban trafficking, dan berbagai kasus lainnya.

Ini membuat saya teringat dengan motivator wanita asal Pakistan, Muniba Mazari.
Karena sebuah kecelakaan, Ia divonis tidak dapat hamil. Ia begitu terpukul, sampai akhirnya suatu hari Ia tersadar bahwa banyak anak di dunia, yang diinginkan mereka adalah penerimaan. Jadi tak ada intinya untuk terus menangis, just go and adopt one. Ia pun memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dan ini keren banget..

Sebenarnya ini hampir mirip dengan pria yang saya ceritakan di atas. Memang Ia memilih untuk Child Free, tapi di sisi lain, Ia mendidik puluhan anak-anak di desa. Jelas aksinya ini jauh lebih bermanfaat dan inspiratif dibandingkan dengan perilaku di mana seseorang punya anak kandung tetapi tidak mau dan tidak bisa mengurusnya.

Just because you don’t give birth, doesn’t mean you don’t have fathering or mothering skill, and you can’t do it to anyone.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s