Category Archives: Sosial/Psikologi

Taksi Konvensional VS Taksi Online

Taksi
Kembali marak terjadi. Demo para sopir angkutan umum terhadap taksi/ojek online, namun kali ini terjadi di kota-kota luar Jakarta. Karena peristiwa ini, saya jadi teringat tahun lalu saat demo taksi konvensional di Jakarta menjadi rusuh dan anarkis, seperti biasa, netizen pun mulai banyak yang berkomentar di social media menanggapi peristiwa tersebut.

Selain membahas fenomena angkutan online, saya sebenarnya lebih ingin bercerita tentang sesuatu yang disebut; berpikir secara holistik (bepikir secara menyeluruh/luas). Jadi, saat kita “melihat” suatu peristiwa, kita melihatnya dari banyak sisi. Saya percaya bahwa saat kita dapat berpikir secara holistik, entah seberapa besar pengaruhnya, itu akan membantu kita agar lebih bisa menguasai emosi/perasaan kita, membantu mengasah rasa empati kita, dan membuat kita jadi lebih pengertian tentunya. Analoginya, hanya karena ada beberapa “koreng” di kulit jeruk, bukan berarti jeruk tersebut busuk bukan?
Continue reading

Advertisements

EQ vs IQ (part 1)

Jika ditanya apa perbedaan kecerdasan intelejensia (IQ) dengan kecerdasan emosi (EQ), salah satu perbedaan yang paling sederhana adalah IQ itu perkara tentang TAHU, sedangkan EQ itu perkara tentang MAU.

eq

Contoh-contohnya seperti ini; orang yang ingin melangsingkan badan, ia tahu kok kalau ngemil terus maka dietnya akan gagal. Tapi, mau ngemil lagi atau tidak, itu cerita lain. Orang yang ingin dapat penghasilan tahu kok kalau bekerja adalah jawaban untuk keinginannya tersebut. Tapi mau kerja atau tidak, itu cerita lain. Orang yang dekat dengan pasangan orang lain tahu kok kalau itu perbuatan tidak benar, dan menjauh dari orang yang sedang dekat dengannya itu adalah solusinya. Tapi mau atau tidak, itu cerita lain.
Continue reading

Fenomena LGBT, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Respon Masyarakat?

CAST-THE-FIRST-STONE
Beberapa waktu yang lalu marak isu LGBT. Maraknya isu ini membuat saya ingin menyuarakan pendapat juga dan akhirnya kesampaian sekarang.

Saya punya teman-teman gay, bahkan salah satu di antaranya adalah teman dekat saya. Namun, apa yang akan saya tuliskan nantinya di sini, alasannya tidak semata-mata karena teman saya gay maka saya berada di pihaknya, karena di sini saya akan bercerita melalui sudut pandang saya pada isu LGBT ini sendiri secara lebih luas.
Continue reading

Ngobrol Saja Kok Diatur?

what-goes-around-comes-back-around
Zaman dahulu kode dalam berkomunikasi digunakan dalam strategi perang dengan tujuan agar komunikasi SULIT DIMENGERTI oleh lawan perang. Jadi, kalau hari ini Anda berkomunikasi pakai kode-kodean kepada lawan bicara Anda, berarti lawan bicara Anda adalah lawan perang Anda. Maka, jangan harap mereka akan mengerti apa yang ingin Anda komunikasikan.

Nah, yang mau saya bahas di sini sebenarnya bukan tentang komunikasi kode-kodean ini, tetapi bahwa ternyata dalam hidup, semua ada ATURANNYA, bahkan termasuk dalam berkomunikasi, entah itu hanya ngobrol sekali pun. Kita tidak bisa berpikir A, berkata B, berlaku C, tapi berharap mendapatkan D. Kita tidak bisa mengomunikasikan sesuatu pakai kode-kodean, lalu berharap lawan bicara mengerti dengan sendirinya. Ya, dalam hidup, kita tidak bisa hidup semau-maunya namun berharap mendapatkan apa yang kita mau.
Continue reading

Sudah Minder, Sombong Pula!

arogan

Judul di atas sebenarnya kurang tepat, karena minder/insecure (tidak aman) dengan sombong bukan dua hal yang berbeda, tetapi justru salah satu penyebab mengapa orang menjadi sombong adalah perasaan insecure-nya.

Orang yang pemalu adalah orang minder/insecure dengan intrepertasi pasif, sedangkan orang yang sombong adalah orang minder/insecure dengan intrepertasi agresif. Atau, sederhananya saja, orang yang sombong itu adalah orang yang insecure tapi tetap jaga gengsi. Makanya ada kondisi di mana ada orang yang dari luar sebenarnya kelihatan percaya diri, tapi sebenarnya dalamnya minder.

Continue reading

Pentingnya Belajar Ikhlas Melepaskan

“Ternyata belajar MELEPASKAN lebih penting daripada belajar menggapai.”

air

Tahukah Anda? Belajar untuk menggapai sesuatu itu penting tetapi belajar untuk menerima bahwa APAPUN yang kita miliki (jangankan hal-hal materiil, bahkan talenta kita dan orang-orang yang kita kasihi) adalah BUKAN milik kita ternyata JAUH LEBIH penting! Yes, what we have is not our belonging. Dan siapa pun untuk sampai ke fase ini JELAS proses dan perjalanan yang dilewati sangatlah TIDAK MUDAH.

Continue reading

10 Ciri-ciri Orang Introvert

introvert

Ciri-ciri Orang Introvert

Pada dasarnya semua orang punya sisi introvert atau minimal kepribadian yang lebih tertutup, karena semua orang punya batas insecurity-nya masing-masing, punya privasi, dan butuh me-time. Batas insecurity maksudnya adalah biasanya ada hal-hal yang membuat sesorang minder, sehingga ia tidak cukup terbuka untuk menceritakan atau menunjukkannya.

Semua orang pun punya sisi extrovert atau kepribadian yang lebih terbuka, karena semua orang butuh bersosialisasi. Saat bertemu orang yang ia nyaman dengannya, orang introvert pun bisa terbuka kok. Untuk lebih detilnya lagi, orang introvert itu kurang lebih memiliki 10 ciri-ciri ini:
Continue reading