Tag Archives: bisnis

Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-1)

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang pertama:

Hasil gambar untuk if you love what you do you'll never work a day in your life

#1. Passion
Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menyemangati dibandingkan dapat mengerjakan sesuatu yang begitu kita minati, apalagi ternyata dapat menghasilkan sesuatu dari sana, entah itu uang atau pun prestasi lainnya. Kita bekerja serasa “tidak” bekerja, melainkan seperti sedang melakukan minat terdalam kita setiap harinya. Beban pekerjaan mungkin ada tapi tidak terlalu berat.

Namun, pernah suatu hari, kenalan saya di social media, @Jetveetlev berkata, somehow teori ini pada akhirnya akan jadi teori saja, karena apa pun yang menjadi RUTINITAS pasti akan MEMBOSANKAN. Betul kok. Maka itu, ketika jenuh menyerang, someone told me that we should take a break, then after that, we will be excited again karena bagaimana pun itu passion kita. Passion merupakan sinyal yang menunjukkan jati diri. Ia merupakan panggilan dari nurani (conscience) kita. Dan nurani itu tidak dapat diingkari. Continue reading

Cara Mengetahui Profesi yang Cocok untuk Anda

Teman-teman, siapa yang di sini ingin menjadi pebisnis? Jika kamu salah satunya, apa yang menjadi motivasimu? Ada beberapa orang yang ingin berdagang karena bagi mereka, kerja sama orang (being employee) itu tidak akan bikin kaya sampai kapan pun. Well, di sini saya ingin bertanya balik, kalau semua orang ingin jadi pemilik usaha, maka yang jadi karyawan siapa?

Di sinilah saya berharap supaya semakin banyak orang memahami bahwa kerja sama orang tidak lebih buruk dibandingkan menjadi pedagang. Di dunia ini, memang ada yang bakatnya kerja dengan orang, ada juga yang berdagang. Dan, entah apakah kamu karyawan atau pun bos, semua profesi pasti ada tantangan dan kesulitannya tersendiri.

esbi-big

Pada artikel seri “Siapakah Saya?” beberapa waktu lalu, saya ada menuliskan bahwa di hidup ini ada orang-orang yang masuk sebagai kaum entrepreneur, pedangang, seniman, akademisi, superstrar, cinderella (ibu rumah tangga), dan lain-lain.
Continue reading

Ada Apa dengan Motivator?

Quotes (47)

Walaupun tidak viral, dan pastinya tidak semua orang, tetapi belakangan profesi motivator memiliki citra yang kurang baik bagi beberapa orang. Jadi, ada orang-orang yang beranggapan bahwa para motivator hanya jago berteori saja, tetapi prestasinya sendiri tidak ada. Maksudnya, para motivator tersebut tidak ada bisnis atau prestasi apa pun, dan akhirnya bisnisnya itu ya menjadi motivator, yang artinya menjual teori mereka melalui seminar, buku, dan produk-produknya yang lain.

Setahu saya pribadi, sebenarnya dulu konsep motivator memang kebalikan dari anggapan orang yang saya tulis di atas. Jadi sederhananya, motivator adalah para kaum entrepreneur atau orang-orang sukses yang suka berbagi. Maksudnya begini, misalkan ada seseorang yang akhirnya sukses menjadi entrepreneur, lalu ia ingin berbagi pengalamannya selama ini bagaimana akhirnya ia bisa sukses agar orang lain juga bisa sukses seperti dirinya, di sinilah ia disebut motivator. Mengapa sebutannya motivator? Karena jika ia saja bisa melewati masa-masa sulitnya sampai akhirnya bisa sukses, berarti ia percaya orang lain juga bisa. Memotivasi bukan? Contohnya ini, setahu saya seperti Chairul Tanjung dan Aprie Angeline.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-4)

ppp
Sampai di sini, mungkin Anda bertanya-tanya, berarti khusus untuk entrepreneur wanita tidak ada pasangan yang ‘menyelamatkannya’ dong, karena kalau ada yang ‘menyelamatkan’, si wanita tidak jadi kaum entrepreneur, malah masuk jadi kaum cinderella? Tidak juga. Pernah mendengar quotes ‘di balik pria sukses, ada wanita yang hebat’? Well, bagi saya quotes ini sebenarnya berlaku untuk wanita maupun pria, tergantung siapa yang akan jadi entrepreneur. Saya melihat ada banyak entreprenuer pria maupun wanita yang hidupnya sedikit banyak juga ‘terselamatkan’ oleh pasangannya. Perbedaannya, adalah pada peran pasangannya biasanya.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-3)

common sense

Pada artikel bagian ke-2 sebelumnya, saya ada menyebut kata “book smart”. Maksudnya apa sih “book smart”? Jadi, kecerdasan seseorang bisa dibentuk dari 2 macam sumber, yaitu dari buku-buku (teori) atau dari eksperimen langsun di lapangan (praktek). Book smart merujuk pada orang yang sangat suka belajar, membaca, mencari tahu wawasan-wawasan baru, dan biasanya disebut juga sebagai orang yang well-educated, sedangkan street smart adalah orang-orang yang cerdas melalui terjun langsung di lapangan, melihat kondisi di lapangan seperti apa, dealing langsung dengan kondisi di lapangan, dan mempraktekkan apa yang seharusnya dilakukan.

Nah di dunia ini, ada yang masuk sebagai kaum akademisi/cendekiawan (intellectual). Orang-orang seperti ini cocok berprofesi sebagai guru, dosen, profesor, filsuf, dan semacamnya. Para kaum akademisi wajib merupakan orang yang book smart! Namun jika ia juga street smart tentunya merupakan nilai plus. Jadi ketika ia berbagi pengetahuannya kepada orang lain biasanya akan lebih mengena karena bisa dihubungkan dengan pengalaman pribadinya di lapangan.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-2)

Entrepreneur

3. Inovatif dan terus berinovasi
Selain itu, seorang entrepreneur biasanya adalah orang yang inovatif. Maka itu, seringkali model bisnis mereka biasanya belum ada sebelumnya di negara/kota/daerah yang bersangkutan (sehingga jadi yang pertama) atau bisnis yang solutif (memberikan solusi secara holistik kepada pasar yang dituju).

Yang dimaksud inovatif maksudnya seperti ini. Ada seseorang yang berbisnis toko bakmi dan ia adalah pedagang yang hebat. Toko bakminya memang sukses dan membawa sang pemilik usaha akhirnya menjadi kaya raya. Tapi, dari muda sampai tua, beliau harus terus turun tangan yang mengaduk bakminya. Atau, tidak ada ekspansi dalam bisnisnya. Entah itu jumlah menunya atau pun tokonya. Ya, seekspan-ekspannya paling hanya sampai 2-3 cabang atau beberapa menu.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-1)

aristotle

Selama ini kita mengenal Inul Daratista sebagai penyanyi dangdut, Tukul Arwana sebagai pelawak, Anne Avantie sebagai perancang busana, Ahmad Dhani sebagai musisi, tetapi saya rasa Anda pasti tahu bahwa mereka sebenarnya adalah kaum entrepreneur. Ya, mereka adalah entrepreneur dengan bidang dan industrinya masing-masing. Kalau Inul pada bidang tarik suara, Tukul pada bidang komedi, Anne Avantie pada bidang fashion design, sedangkan Ahmad Dhani pada bidang musik, yang kebetulan masing-masing dari mereka memilki bakat di industri bisnis yang mereka geluti itu sendiri, mengawali kariernya ini dengan bakat mereka tersebut sehingga menjadi profesi mereka saat itu, dan lama-lama menjadikan itu sebagai bisnis mereka, lalu memberdayakan atau meregenerasi orang lain dari bisnisnya ini hingga disebutlah sebagai entrepreneur.

Bahkan Anda mungkin tahu bahwa ada beberapa pemuka agama pun sebenarnya masuk sebagai kaum entrepreneur. Tempat ibadah, manajemen, serta jasa yang ditampilkan/disediakan di tempat ibadah merupakan “produk bisnis”-nya. Di sini saya TIDAK sedang membahas apakah benar atau salah jika ‘bisnis’nya adalah seperti ini, karena yang paling tahu niat hati si pemuka agama hanya dirinya dan Tuhan. Jika passion-nya benar-benar adalah menyebarkan ajaran agama, niat dan tujuannya betul-betul karena ingin melayani sesama, memberdayakan para manajemen dan jamaah/jemaatnya, maka menurut saya, segala kelimpahan yang didapati oleh si pemuka agama sebagai ‘business owner’ pantas dipandang sebagai berkah Tuhan serta layak diterima dan dinikmati olehnya. Lagipula kalau dibahas per industri, para pemuka agama tersebut sebenarnya bisa disebut sebagai sociopreneur (social entrepreneur). Apa itu sociopreneur? Secara singkat, saya pernah membaca sebuah pernyataan yaitu, salah satu syarat yang ada pada seorang sociopreneur adalah harus mempunyai itikad untuk menjadi pengusaha dengan dasar fundamental sosial. Saya cukup setuju dengan definisi tersebut. Namun jika ranahnya sudah di bidang agama, maka jangkauan si pemuka agama biasanya lebih kecil dibandingkan entrepreneur pada umumnya. Jangkauan di sini bisa termasuk ‘konsumen’-nya atau seberapa jauh ia dikenal. Jika agamanya minoritas, maka jangkuannya pun pasti akan semakin kecil.

Continue reading