Tag Archives: blogger

Rumus 6P2K dalam Meningkatkan Karier (P-1)

Rumus 6P2K dalam meningkatkan karier. P- yang pertama:

Hasil gambar untuk if you love what you do you'll never work a day in your life

#1. Passion
Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menyemangati dibandingkan dapat mengerjakan sesuatu yang begitu kita minati, apalagi ternyata dapat menghasilkan sesuatu dari sana, entah itu uang atau pun prestasi lainnya. Kita bekerja serasa “tidak” bekerja, melainkan seperti sedang melakukan minat terdalam kita setiap harinya. Beban pekerjaan mungkin ada tapi tidak terlalu berat.

Namun, pernah suatu hari, kenalan saya di social media, @Jetveetlev berkata, somehow teori ini pada akhirnya akan jadi teori saja, karena apa pun yang menjadi RUTINITAS pasti akan MEMBOSANKAN. Betul kok. Maka itu, ketika jenuh menyerang, someone told me that we should take a break, then after that, we will be excited again karena bagaimana pun itu passion kita. Passion merupakan sinyal yang menunjukkan jati diri. Ia merupakan panggilan dari nurani (conscience) kita. Dan nurani itu tidak dapat diingkari. Continue reading

Mengkritisi Tayangan Pernikahan Mewah di Televisi

664529916473009f7af847ec2ffdfe55

Saya tidak setuju dengan acara pernikahan, kelahiran, dan lain-lain yang terlampau mewah ditayangkan di media. Mengapa? Jawaban saya diambil dari sudut pandang sosiologi. Anda pasti tahu dong, kesenjangan sosial di Indonesia kan sangat tinggi. Hari ini di Indonesia ada banyakk sekali rakyatnya yang jangankan berpikir menikah dirayakan, mau makan pun sangat susah. Seperti yang Anda pasti sudah ketahui juga, salah satu hiburan rakyat kalangan menengah ke bawah di Indonesia biasanya adalah menonton TV. Ironis sekali ketika kondisi mereka yang seperti itu, mereka menonton acara seperti ini, lalu mendengar pembawa acara berkata seserahan si selebritis bisa bernilai hingga miliaran. Hanya untuk seserahan loh. Jadi bisa dibayangkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk ke seluruhan acara, sedangkan bagi sebagian besar dari mereka, bisa nonton TV saja sudah syukur. Jadinya kalau menayangkan kemewahan berlebihan seperti ini pada negara dengan kondisi yang masih begini, rasanya kurang etis ya? 🙂 Atau bahasa sederhananya, ngga enaklah terlalu berlebihan begitu.

Kalau Anda menyanggah,”tapi kan selebiritisnya mendapatkan semua itu dengan cara yang halal, ngga korupsi, ngga nunggak hutang, ngapain malu atau merasa bersalah?” berarti Anda salah tangkap yang saya maksud di atas. Yang saya bilang adalah kurang etis, bukan malu atau merasa bersalah. Kalau kita mampu membeli semua hal yang mewah dari hasil kerja keras kita, why not? Do enjoy your hard work! Tetapi antara kemampuan membeli dengan kemauan untuk mengeksposnya secara berlebihan merupakan dua hal yang berbeda. Anda membeli karena Anda mampu, tapi tujuan diekspos berlebih-lebihan apa? Apakah banyak manfaatnya bagi sesama atau hanya akan semakin memperjelas social gap yang ada di Indoensia?

“Kalau tidak suka ya tidak usah nonton” — ini adalah pernyataan yang cukup sering saya dengar dan sesungguhnya tidak memberi solusi sama sekali bagi kepentingan bersama. Tujuan saya dan orang-orang yang memberikan pendapat atau mengkritisi acara seperti ini kan demi kebaikan bersama. Lain kali mungkin bisa kali ya kita diskusi apa beda kritik yang membangun dan yang menjatuhkan. Maka jika Anda bilang; kalau tidak suka tidak usah nonton, ya betul, memang tidak saya tonton kok. :)) Kalau pun nonton, karena tidak ada acara lain lagi dan terpaksa ditonton, atau untuk dikritisi. XD

Makanan Favorit

Janganlah dilihat dari tubuh saya yang mungil, tapi mungkin ukuran lambung saya menempati seperempat isi perut saya karena porsi makan saya kadang memang astagadotcom. Itu kenapa kalau ditanya apa makanan favorit saya, sulit sekali untuk dijawab. Tapi, jika memang harus dijawab, mungkin inilah 4 serpihan surga yang tak bisa kudustakan:

1. Kuo Tie
IMG_20140916_195942 | oleh nicetobeoki

Image: flickr.com/photos/okinice

Kalau di restoran Jepang, kita lebih mengenal makanan satu ini dengan nama Gyoza. Namun, sepertinya peradaban Kuo Tie lebih lama daripada Gyoza karena Kuo Tie berasal dari Shandong, salah satu provinsi di Tiongkok dan sudah ada sejak abad ke-7. Rasanya pun agak berbeda dengan Gyoza. Kuo Tie lebih mewakili makanan surga tingkat ke-7 kalau bagi saya. Hahaha. Apalagi kalau dimakan masih panas-panas, dan jangan lupa dicocol dengan sambalnya yang juga khas yaitu bawang putih + minyak wijen + sambal merah, wiih.. maka, nikmat mana lagi yang akan kau dustakan..? :)) Tapi, mohon maaf, makanan satu ini 100% haram alias menggunakan daging babi.

Continue reading

I’m Back!

My name is Okinice, not Oki Nice.