Tag Archives: devotional

Tentang Keberadaan, Keyakinan, Keputusan, dan Kehendak Tuhan

life hack

These are some of my thoughts recently.

#1. When we let go of a person in our life, new person is coming. And yes, anything new is always excited BUT doesn’t mean for a lifetime! Some people come into our life for a purpose. It could be for professional purpose, for teach us something, for entertaining us or/and the vice versa, for certain period or lifetime, or anything else. In this case, I remember this quote “we have three types of friends in life; friends for a reason, friends for a season and friends for a lifetime”.

#2. Kita tidak akan percaya/yakin kepada siapa pun, sebelum kita percaya dan yakin kepada diri kita sendiri.
Continue reading

Fisika x Metafisika

rumus-fisika

Hidup itu realistis.

Fisika mewakili usaha. Metafisika mewakili doa.

Usaha tanpa doa = masih ada harapan.
Doa tanpa usaha = ngarep.
Tidak ada usaha, tidak ada doa = ngarep pun dilarang.

 

EQ vs IQ (part 1)

eq

Jika ditanya apa perbedaan kecerdasan intelejensia (IQ) dengan kecerdasan emosi (EQ), salah satu perbedaan yang paling sederhana adalah IQ itu perkara tentang TAHU, sedangkan EQ itu perkara tentang MAU.

Contoh-contohnya seperti ini; orang yang ingin melangsingkan badan, ia tahu kok kalau ngemil terus maka dietnya akan gagal. Tapi, mau ngemil lagi atau tidak, itu cerita lain. Orang yang ingin dapat penghasilan tahu kok kalau bekerja adalah jawaban untuk keinginannya tersebut. Tapi mau kerja atau tidak, itu cerita lain. Orang yang dekat dengan pasangan orang lain tahu kok kalau itu perbuatan tidak benar, dan menjauh dari orang yang sedang dekat dengannya itu adalah solusinya. Tapi mau atau tidak, itu cerita lain.
Continue reading

Conversation of the Year 2015

A: Lawan bicara. O: saya.

A: Tahun lalu gue juga gejala depresi, ki. Mungkin karena kita sempet terlalu berambisi. Makanya tahun lalu gue tuh kayak lahir baru. Gue kehilangan beberapa teman-teman lama (yang memberi pengaruh kurang baik), tapi abis itu digantiin dengan teman-teman baru yang memberi pengaruh lebih baik. Gue juga jadi lebih sabar di rumah, dan kelihatan dampaknya ke orang-orang rumah gue juga jadi lebih baik. Gue sih ngga pernah nyerah sama mimpi gue, tapi sudah ngga terlalu ngoyo kayak dulu. Yang penting jangan terlalu depend sama diri sendiri dan orang lain, mesti lebih berserah kepada Tuhan. Terus, yang sudah lewat, lewat saja.
Nah, tapi abis ini pasti ada tantangan baru lagi…

O: True. =)

Sebagian Besar Hidup adalah Pilihan

Screenshot_2015-08-30-23-16-11

Ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih di dunia ini, misalkan kita lahir di keluarga mana, lahir sebagai pria atau wanita, lahir dengan membawa bakat apa, dan kejadian apa yang tiba-tiba bisa terjadi hari ini (misalkan tiba-tiba kita kecopetan walaupun kita sudah memilih jalan yang aman). Tapi, ternyata hal-hal yang tidak bisa kita pilih tersebut presentasenya mungkin hanya kurang lebih 10% dalam hidup kita, APALAGI jika usia kita sudah 21 tahun ke atas yang secara harafiah disebut usia dewasa. Saat usia kita sudah 21 tahun ke atas, betul-betul tanggung jawab ada di diri kita dalam mengambil setiap keputusan hidup.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-4)

ppp
Sampai di sini, mungkin Anda bertanya-tanya, berarti khusus untuk entrepreneur wanita tidak ada pasangan yang ‘menyelamatkannya’ dong, karena kalau ada yang ‘menyelamatkan’, si wanita tidak jadi kaum entrepreneur, malah masuk jadi kaum cinderella? Tidak juga. Pernah mendengar quotes ‘di balik pria sukses, ada wanita yang hebat’? Well, bagi saya quotes ini sebenarnya berlaku untuk wanita maupun pria, tergantung siapa yang akan jadi entrepreneur. Saya melihat ada banyak entreprenuer pria maupun wanita yang hidupnya sedikit banyak juga ‘terselamatkan’ oleh pasangannya. Perbedaannya, adalah pada peran pasangannya biasanya.

Continue reading

Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri (Bagian ke-3)

common sense

Pada artikel bagian ke-2 sebelumnya, saya ada menyebut kata “book smart”. Maksudnya apa sih “book smart”? Jadi, kecerdasan seseorang bisa dibentuk dari 2 macam sumber, yaitu dari buku-buku (teori) atau dari eksperimen langsun di lapangan (praktek). Book smart merujuk pada orang yang sangat suka belajar, membaca, mencari tahu wawasan-wawasan baru, dan biasanya disebut juga sebagai orang yang well-educated, sedangkan street smart adalah orang-orang yang cerdas melalui terjun langsung di lapangan, melihat kondisi di lapangan seperti apa, dealing langsung dengan kondisi di lapangan, dan mempraktekkan apa yang seharusnya dilakukan.

Nah di dunia ini, ada yang masuk sebagai kaum akademisi/cendekiawan (intellectual). Orang-orang seperti ini cocok berprofesi sebagai guru, dosen, profesor, filsuf, dan semacamnya. Para kaum akademisi wajib merupakan orang yang book smart! Namun jika ia juga street smart tentunya merupakan nilai plus. Jadi ketika ia berbagi pengetahuannya kepada orang lain biasanya akan lebih mengena karena bisa dihubungkan dengan pengalaman pribadinya di lapangan.

Continue reading